Pada perdagangan saham awal pekan Senin (17/11/2008) IHSG diprediksi masih akan melemah karena pelaku pasar memilih untuk berpikir jernih dulu sebelum melakukan investasi saham dalam kondisi seperti saat ini.
Ditangkapnya penyebar rumor bank dari Bahana Securities akan membuat pelaku pasar lebih berhati-hati melakukan transaksi dan menghindari spekulasi saham.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Senin pagi ini indeks utama Asia, Nikkei dibuka melemah 1,13% sedangkan bursa saham Australia S&P/ASX200 dibuka melemah 43,3 poin atau 1,1% menjadi 3.748,1.
Pelemahan bursa saham Asia Pasifik ini mengikuti turunnya saham-saham di Wall Street pada Jumat pekan lalu (14/11/2008).
Saham-saham di AS kembali mengalami aksi jual, setelah data penjualan ritel semakin menunjukkan bahwa daya beli masyarakat AS masih sulit untuk bisa menggerakkan lagi perekonomian.
Data penjualan ritel AS tercatat turun hingga 2,8% selama Oktober. Konsumen AS terus mengurangi belanja, seiring resesi yang membayangi negaranya. Padahal belanja konsumen adalah kunci utama perekonomian AS dan sumber laba perusahaan-perusahaan.
Pada perdagangan Jumat (14/11/2008), indeks Dow Jones Industrial Average kembali turun 337,94 poin (3,82%) ke level 8.497,31. Indeks Standard & Poor's 500 turun 38 poin (4,17%) ke level 873,29 dan Nasdaq merosot 79,85 poin (5%) ke level 1.516,86.
Pada penutupan perdagangan saham Jumat pekan lalu (14/11/2008) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik tipis 4,664 poin (0,37%) menjadi 1.264,377.
Berikut rekomendasi saham dari perusahaan sekuritas.
Panin Sekuritas
Sementara pekan ini, fokus investor dalam negeri selain perkembangan bursa regional, juga pergerakan rupiah yang terus terpuruk menuju level tahun 1998. Pekan lalu BI bahkan menerbitkan peraturan pembatasan pembelian valas guna mencegah terus merosotnya nilai tukar rupiah.
Perkembangan saham BUMI dan grup Bakrie lainnya juga masih akan menyita perhatian investor. Secara teknikal, IHSG terlihat tengah bergerak dalam pola sideways dalam jangka pendek. Minimnya sentimen positif menyebabkan sulit bagi IHSG untuk rebound lebih lanjut. Kisaran support-resistance 1.200-1.290.
eTrading Securities
Bursa Indonesia selama pekan kemarin bergerak cukup terbatas meski akhirnya ditutup melemah 74 poin (5,5%) di level 1264,3. Trading value pekan kemarin pun terlihat lebih kecil, hanya sekitar Rp1,99 triliun, tertolong oleh lonjakan pada perdagangan hari Jumat akibat kembali beraksinya perdagangan saham BUMI yang mengkontribusi sekitar Rp1,2 triliun di hari itu. Indeks terlihat masih mencari titik konsolidasi baru dan bergerak seiring dengan pergerakan bursa global.
Sementara bursa US pada pekan kemarin bergerak sangat volatile dan akhirnya juga ditutup melemah signifikan. Kekhawatiran imbas krisis finansial ke sektor manufaktur dan retail membawa bursa US terus mengalami tekanan sentimen negatif. Pelemahan daya beli masyarakat seiring dengan meningkatnya pengangguran mulai membahayakan sektor riil di US yang didominasi oleh konsumsi. Indeks Angka penjualan retail bulan Oktober kembali turun 2,8%, angka penurunan terbesar sejak Nov 2001. Dow turun -3,8%, Nasdaq 5% dan S&P500 -4,1%.
Pergerakan harga komoditas pada pekan kemarin juga tidak memberi sentimen positif bagi bursa seiring terus turunnya harga minyak hingga menyentuh level US$55,6/barrel. Penurunan harga minyak ini juga diikuti oleh beberapa komoditas lainnya, seperti CPO, Nickel, Timah dan Batubara. Pelemahan demand akibat krisis finansial dan perlambatan ekonomi di Eropa dan Asia membuat harga-harga komoditas terus tertekan.
Bursa Indonesia sendiri pada perdagangan pagi ini diperkirakan akan bergerak seiring dengan bursa Regional yang bergerak melemah hari ini. Nikkei -2,5%, KOSPI -2,7% & STI -1,7%. Sentimen negatif dari pelemahan harga minyak dunia dan CPO juga masih akan menekan sektor mining dan plantation. Rentang pergerakan indeks akan berada pada kisaran 1240 - 1287.
(ir/ir)











































