Sofyan Kecewa Oknum Bahana Jadi Penyebar Rumor

Sofyan Kecewa Oknum Bahana Jadi Penyebar Rumor

- detikFinance
Senin, 17 Nov 2008 14:41 WIB
Sofyan Kecewa Oknum Bahana Jadi Penyebar Rumor
Jakarta - Menneg BUMN Sofyan Djalil menyesalkan terjadinya penyebaran informasi yang tidak benar oleh karyawan PT Bahana Securities yang bisa mengganggu perbankan nasional. Karena Bahana sendiri merupakan perusahaan pelat merah milik negara.

Erick Jazier Adriansjah yang bekerja sebagai staff equity sales PT Bahana Secutities ditahan Mabes Polri karena dianggap menyebarkan informasi mengenai bank-bank yang kesulitan likuiditas.

"Saya sangat menyesalkan hal seperti ini bisa terjadi di Bahana, saya tanya ke direksi Bahana, itu tindakan pribadi yang bertentangan dengan peraturan internal dan itu bukan tugasnya dia. Dia hanya sales bukan analis. Jadi memang ada pelanggaran ketentuan internal mereka sendiri," kata Sofyan di kantor BUMN, gedung Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (17/11/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ke depan, Sofyan berharap kejadian itu tidak terulang lagi dan Bahana harus mengambil tindakan disiplin. "Karena ini melanggar hukum yang bersangkutan harus bertanggungjawab secara hukum. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua dalam kondisi seperti ini jangan main-main harus ekstra hati-hati. Wartawan juga jangan rumor dianggap bener perlu cek dan ricek harus zero tolerence untuk selanjutnya saya kecewa itu bisa terjadi. Tapi sekali lagi ini bukan kebijakan perusahaan, ini bukan kerjaan orangnya itu yang sangat saya sesalkan," tutur Sofyan.

Sofyan mengaku tidak tahu apa sanksi yang diberikan Bahana ke tersangka tersebut. "Saya tidak tahu apakah ditegur atau diberhentikan sementara. Tapi itu kan perbuatan yang sangat buruk. Yang penting ini pelajaran berharga biarkan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya," ujar Sofyan.

Berawal dari sebuah email yang lalu di-forward hingga nun jauh ke mana-mana, Erick Jazier Adriansjah kini harus mendekam di tahanan Mabes Polri. Erick dituding bisa mengganggu kestabilan dunia perbankan Indonesia. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads