Resesi Menjamur, Wall Street Makin Hancur

Resesi Menjamur, Wall Street Makin Hancur

- detikFinance
Selasa, 18 Nov 2008 06:50 WIB
Resesi Menjamur, Wall Street Makin Hancur
New-York - Jepang akhirnya bergabung dengan Eropa berada di jurang resesi. Kekhawatiran terus memburuknya perekonomian dunia terus menekan saham-saham di Wall Street ke titik terendahnya.

Pengumuman Citigroup yang akan mem-PHK 52.000 karyawannya atau sekitar 15% dari seluruh karyawan di berbagai belahan dunia, memberi sentimen negatif juga.

Pasar sebelumnya sempat mendapatkan titik cerah dari pertemuan para pemimpin G20, yang sempat memunculkan komitmen bersama meski tanpa langkah yang konkret untuk memulihkan perekonomian dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun kekecewaan pasar muncul setelah data menunjukkan bahwa perekonomian Jepang hanya tumbuh 0,1%. Data itu sekaligus menunjukkan bahwa partner dagang utama AS itu telah terjun ke jurang resesi bersama dengan sejumlah negara Eropa dan Asia lainnya.

Pada perdagangan Senin (17/11/2008), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup merosot hingga 223,73 poin (2,63%) ke level 8.273,58. Indeks Standard & Poor's turun hingga 22,54 poin (2,58%) ke level 850,75. Dan Nasdaq juga turun 34,80 poin (2,29%) ke level 1.482,05.

"Banyak hal yang menjadi perhatian pasar, bahwa apapun yang dilakukan pemerintah AS dan seluruh dunia tidak akan cukup untuk membuat kita merasa lebih baik," jelas Paul Nolte, Direktur Investasi Hinsdale Associates.

Saham-saham sektor finansial mengalami tekanan setelah bank terbesar kedua AS, Citigroup mengumumkan rencana PHK besar-besaran. Langkah dramatik yang ditempuh Chief Executive, Vikram Pandit itu ditujukan untuk memperbaiki kinerja Citigroup. Saham Citigrop merosot hingga 6%.

"Industri ini akan menyusut dalam rangka melakukan stabilisasi yang baik untuk mereka sendiri sebelum akhirnya memiliki harapan untuk tumbuh lagi," jelas Matt Kaulfer, manajer portofolio dan analis saham Clover Capital Management seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/11/2008).

Perdagangan saham sangat tipis dan berada di bawah rata-rata tahun lalu, yakni di New York Stock Exchange yang hanya 1,31 miliar lembar saham dan 1,86 miliar di Nasdaq.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads