Demikian disampaikan Presiden Direktur Arrtu Christoforus Richard usai penandatangani Letter of Intent (LoI) dengan PTBA di Gedung Kementrian BUMN, Jakarta, Rabu (19/11/2008).
"Kita sudah LoI dengan PTBA, kita minta pasokan sebanyak 5-6 juta ton per tahun sebagai feedstock untuk bikin dymethil ether (DME) di Riau," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arrtu memang berniat membangun pabrik pengolahan batubara menjadi DME dengan kapasitas 1,2 juta ton per tahun. Kapasitas ini setara dengan produksi metanol sebesar 1,7 juta ton per tahun.
Pabrik akan dibangun berdekatan dengan lahan batubara PTBA yang memiliki cadangan hingga 1,3 miliar ton. Dari cadangan itu, yang bisa digali kemungkinan hanya 600 juta ton.
"Kita ready to start, di atas lahan seluas 17.000 hektar. Nantinya batubara dari PTBA dibikin syngas (gas sintetis), dan ampasnya untuk barang lain seperti beton," katanya,
Sementara itu, Pertamina sebagai pelaksana program konversi minyak tanah ke elpiji mengaku tertarik untuk membeli gas sintetis tersebut.
"Pertamina mau jadi pembeli, kalau harganya lebih murah dari elpiji," kata Wadirut Pertamina Iin Arifin Takhyan.
Bahkan jika bisnis ini terbukti menarik, Pertamina pun ingin ikut memiliki saham meski hanya minoritas atau sekitar 10%.
"Ya, sekitar segitu (10%). Sekarang Pertamina masih tunggu kajian dari Arrtu," katanya.
(lih/ir)











































