"Untuk masyarakat rumah tangga yang tidak butuh pegang dolar, harusnya tidak pegang dolar. Tapi kecuali dia punya anak yang kuliah di luar negeri," kata Menkeu sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani ketika ditemui di Kantor Departemen Keuangan, Jakarta, Rabu (19/11/2008).
Diakui Menkeu, faktor utama apresiasi dolar yang tak terbendung ini bukan pada jumlah pasokannya tapi karena para pemegang dolar belum percaya diri untuk melakukan perdagangan (trading).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menkeu juga mengatakan meski nilai rupiah terus melorot hingga 12.000/US$, pemerintah melihat pelemahan ini masih dalam border yang cukup aman. Meski begitu, para pelaku usaha dan masyarakat tetap harus melakukan penyesuai dalam aktivitasnya.
"Kita masih dalam border yang cukup aman. Meskipun berarti pelaku usaha termasuk masyarakat umum, masih harus melakukan penyesuaian terhadap tingkat equilibrium sementara ini," katanya.
Sri Mulyani melihat pelemahan rupiah kali ini tidak seburuk apa yang terjadi dengan mata uang negara lain. Ia mencontohkan Australia, Singapura, Thailand dan India yang koreksi nilai mata uangnya mencapai 30-40%. (lih/ir)











































