Minimnya transaksi ini karena investor cemas akan nasib investasi di saham yang sedang penuh ketidakpastian. Padahal biasanya transaksi saham di kala sepi sekalipun mencatat nilai perdagangan minimal Rp 1-3 triliun sampai Rp 1,5 triliun.
Merosotnya bursa saham Asia ikut memukul pergerakan IHSG ditambah dengan pelemahan rupiah hingga 12.000/US$ telah membuat pelaku pasar keluar sejenak dari lantai bursa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indeks LQ-45 turun 5,685 poin (2,54%) menjadi 218,381 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 2,583 poin (1,41%) menjadi 180,271.
IHSG mengikuti merosotnya bursa saham Asia yang terjerembab mengikuti Wall Street, seperti Hang Seng turun 4,04%, KOSPI turun 6,7%, Nikkei turun 6,89%, Shanghai turun 1,67%, STI Singapura turun 2,76% dan Taiwan turun 4,53%.
Perdagangan saham hari ini mencatat transaksi yang sangat tipis dengan volume sebanyak 30.390 kali, pada volume 4,042 miliar unit saham, senilai Rp 1,038 triliun. Sebanyak 27 saham naik, 120 saham turun dan 42 saham stagnan.
Saham-saham yang turun harganya antara lain, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 250 menjadi Rp 2.600, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 140 menjadi Rp 1.340, United Tractors (UNTR) turun Rp 325 menjadi Rp 3.150, Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 50 menjadi Rp 2.700 dan Astra Internasional (ASII) turun Rp 100 menjadi Rp 8.400.
Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, Telkom (TLKM) naik Rp 150 menjadi Rp 5.750, Indosat (ISAT) naik Rp 250 menjadi Rp 4.350 dan Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik Rp 100 menjadi Rp 3.100.
Sementara saham-saham grup Bakrie terus tertekan. Saham Bumi Resources (BUMI) turun Rp 80 (9,3%) menjadi Rp 780, Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) turun Rp 25 (10%) menjadi Rp 225, Bakrieland Development (ELTY) stagnan Rp 66, Bakrie Telecom (BTEL) turun Rp 1 (1,89%) menjadi Rp 52, Bakrie & Brothers (BNBR) turun Rp 11 (9,32%) menjadi Rp 107 dan Energi Mega Persada (ENRG) turun Rp 25 (8,77%) menjadi Rp 260. (ir/qom)











































