Pada perdagangan Senin (24/11/2008), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup menguat hingga 396,97 poin (4,93%) ke level 8.443,39.
Indeks Standard & Poor's 500 melonjak 51,78 poin (6,47%) ke level 851,81 dan Nasdaq menguat 87,67 poin (6,33%) ke level 1.472,02.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Citigroup, yang merupakan salah satu komponen Dow Jones terbesar menguat tajam hingga 60 persen menjadi 5,95 dolar. Penguatan harga saham terbesar ini terjadi setelah pemerintah mengumumkan bailout untuk Citigroup. Pada pekan lalu, saham Citigroup merosot ke level terendahnya dalam 15 tahun terakhir karena kekhawatiran akan nasib raksasa bank AS itu.
"Pasar sangat mencintai bailout. Ini seperti telah menanamkan sedikit kepercayaan ke sektor itu sendiri," ujar Brian Gendreau, analis dari ING Investment seperti dikutip dari Reuters, Selasa (25/11/2008).
Di bawah rencana penyelamatan itu, Departemen Keuangan AS akan menyuntikkan US$ 20 miliar ke dalam saham preferen Citigroup melalui Troubled Asset Relief Program (TARP). Program ini secara signifikan memperkuat rasio modal utama Citigroup, dengan adanya tambahan modal hingga US$ 40 miliar.
Upaya penyelamatan Citigroup ikut mendongkrak saham-saham finansial lain. Saham JPMorgan Chase naik hingga 21,4%, Bank of America melonjak 27,2%.
Optimisme pasar juga bertambah setelah presiden terpilih Barack Obama telah menunjuk pada penasihat ekonominya, yang dianggap sesuai dengan harapan pasar. Obama memilik Presiden Bank Sentral New York Tomothy Geithner sebagai Menkeu, sementara Lawrence Summers menjadi Direktur Dewan Ekonomi Nasional.
Perdagangan cukup aktif di New York Stock Exchange dengan 2,04 miliar lembar saham ditransaksikan, sementara di Nasdaq transaksi mencapai 2,56 miliar. Kedua transaksi itu di atas rata-rata transaksi tahun lalu.
(qom/qom)











































