Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di sela-sela acara Investor Summit 2008 di Hotel Ritz Carlton, SCBD Sudirman, Jakarta, Selasa (35/11/2008).
"Kita akan cari pinjaman perbankan sebanyak 30-40 persen dari capex kita tahun depan," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Besarnya kurang lebih sama dengan capex tahun lalu, tapi masih kami monitor terus apakah lebih besar atau lebih kecil," ujarnya.
Ia mengatakan, 60 persen dari capex tersebut khusus dialokasikan untuk biaya oprasional seluler. Sedangkan sisanya akan digunakan untuk membangun tower, transmisi kabel, batere, base tranceiver station (bts) dan lain sebagainya.
"Itu semua kan cukup mahal. Itu butuh duit gede semua," ujarnya.
Ia menegaskan, penutupan capex tahun depan hanya akan ditutupi melalui pinjaman perbankan. "Tidak ada rencana penerbitan obligasi karena sekarang ini investor enggak mau beli," jelasnya.
Menurutnya, perseroan sudah mendapat komitmen dari beberapa perbankan dalam negeri seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, Bank Pembangunan Daerah, Bank Mandiri Tbk dan Bank Negara Indonesia Tbk.
"Kita sudah komit dengan mereka setiap tahun, jadi enggak ada masalah," tandasnya.
Optimistis di 2009
Telkom juga mengaku optimistis bisa kembali berkompetisi di tahun 2009 mendatang, setelah di kuartal III-2008 mengalami penurunan laba bersih yang cukup signifikan.
"Kuartal III kita sengaja turunkan tarif 70-75 persen supaya bisa menarik pelanggan lebih banyak, sehingga kita siap menghadapi kompetisi di tahun depan," ujarnya.
Ia mengatakan, jumlah pelanggan Telkom meningkat sebanyak 8 juta setelah penurunan tarif. Jumlah pelanggan Flexi meningkat 63 persen dari sebelumnya 6 juta menjadi 9 juta pelanggan. Sedangkan total jumlah pelanggan Telkomsel menjadi 62 juta.
"Kita ini sedang memasuki periode adjustment, kalau sudah ada market share seperti ini, secara bertahap lebih mudah menstabilkan semua di tahun depan," ujarnya.
Ia mengatakan, penetrasi pasar telekomunikasi di luar negeri sudah mencapai 80 persen dari total penduduk. Saat ini di Indonesia sendiri baru mencapai 63 persen, dan diperkirakan hingga akhir tahun akan mencapai 70 persen.
"Tahun depan akan sedikit melambat hingga total 80 persen, itu pun jika tidak terganggu krisis. Karena penetrasi ke daerah-daerah tidak akan setinggi sebelumnya," katanya.
(ang/ir)











































