"Sebenarnya industri pasar modal kita kekurangan dana-dana jangka penjang. Itu sangat berpengaruh pada kejatuhan indeks kita," ujar Kepala Bapepam-LK, Fuad A Harmany dalam paparan publik di acara investor summit and capital market expo 2008, di hotel Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta, Rabu (26/11/2008).
Menurut Fuad, mayoritas investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah investor jangka pendek, terutama investor-investor asing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ketika terjadi krisis keuangan global yang berdampak pada gugurnya seluruh indeks regional di seluruh dunia, termasuk IHSG, disebabkan salah satunya oleh penarikan dana-dana jangka pendek.
"Kebanyakan penarikan itu dilakukan oleh investor jangka pendek asing," jelas Fuad.
Menurut Fuad, salah satu yang menyelamatkan kejatuhan indeks lebih dalam adalah masih bertahannya investor-investor jangka panjang di BEI.
"IHSG bertahan di level 1.100-an itu karena investor jangka panjang kita yang kebanyakan investor domestik tidak melepas portofolionya. Kalau tidak, IHSG pasti jatuh lebih dalam lagi," ujar Fuad.
Kendati demikian, Fuad mengatakan jumlah investasi jangka panjang masih kurang cukup untuk menahan kejatuhan IHSG.
Apa yang dikatakan Fuad cukup logis, mengingat pada awal 2008 IHSG berada di level 2.700-an, sedangkan di November 2008 posisinya turun ke level 1.100-an.
"Itu menunjukkan penurunan IHSG sebanyak 1.700-an adalah dana-dana jangka pendek. Jadi perbandingannya 1.100 investasi jangka panjang, sedangkan 1.700 adalah jangka pendek," ujar Fuad.
Oleh karena itu, Fuad mengatakan industri pasar modal Indonesia membutuhkan investor-investor jangka panjang lebih banyak lagi.
"Dan kalau bisa, investor-investor domestik masuk secara masif untuk investasi jangka panjang. Bukannya kita tidak percaya asing, tapi kalau investor domestik masuk ramai-ramai kan lebih bagus untuk memperkuat pasar modal kita," ujar Fuad. (dro/ir)











































