Bail out jenis ini dianggap tidak begitu berguna untuk memperbaiki kondisi ekonomi indonesia saat ini.
Hal tersebut disampaikan pengamat ekonomi Faisal Basri dalam diskusi bertemakan 'Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Keuangan Global, Beda Bail Out ala Amerika dan Indonesia' di Cafe Galeri, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Sabtu (29/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekonomi mandeg karena likuiditas, ini menyebabkan sektor riil hancur. Makanya likuiditas dulu yang dibenahi karena akan berimbas pada sektor usaha maju dan ini akan berdampak pada pasar saham," jelasnya.
Faisal menjelaskan, krisis ini merupakan moment yang tepat untuk bersih-bersih di bursa. "Dengan krisis ini kita hilangkan racun-racun company dan racun coorporation di bursa," ungkap Faisal.
Sementara itu Sekretaris Menneg BUMN M Said Didu di tempat terpisah mengatakan dari Rp 11 triliun yang disiapkan untuk buy back saham BUMN, yang terpakai cuma 1 persennya.
"Hal ini disebabkan karena tidak ada barang, tidak ada yang mau melepas saham BUMN ini. Apa bisa BUMN beli saham lain, itu namanya bukan buy back. Telkom juga sudah antre, duit banyak tapi tidak ada barang di pasar modal," ujarnya di Hotel Bumi Karsa.
(ddn/ddn)











































