Dana Pensiun dan Jamsostek Dianjurkan Borong Saham

Dana Pensiun dan Jamsostek Dianjurkan Borong Saham

- detikFinance
Selasa, 02 Des 2008 12:35 WIB
Dana Pensiun dan Jamsostek Dianjurkan Borong Saham
Jakarta - Yayasan Dana Pensiun dan Jamsostek dianjurkan melakukan pembelian saham secara masif untuk mendorong stabilisasi pasar. Langkah ini dinilai lebih memberi stimulus pasar modal ketimbang program buy back BUMN.

"Pembelian saham secara masif oleh Dana Pensiun atau Jamsostek lebih bisa menstimulus pasar ketimbang program buy back BUMN," ujar pengamat pasar modal, Yanuar Rizky disela acara di hotel Aston Atrium, Senen, Jakarta, Selasa (2/12/2008).

Menurut Yanuar, program buy back BUMN tidak mampu mendorong stabilisasi pasar modal karena pada dasarnya buy back emiten di pasar modal memang bukan bertujuan untuk mendorong harga-harga saham naik dan stabil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Buy back itu lebih untuk kepentingan masing-masing emiten. Tujuan utamanya bukan untuk memberi stimulus pasar," jelas Yanuar.

Lain halnya, ia melanjutkan, dengan kepentingan Yayasan Dana Pensiun atau Jamsostek. Menurut Yanuar, dua institusi yang boleh dikategorikan sebagai perusahaan investasi tersebut, jika masuk ke pasar modal secara masif akan memiliki kepentingan mendorong stabilisasi pasar.

"Karena perusahaan investasi itu harus menjaga NAB (Nilai Aktiva Bersih). Jadi kalau mereka borong saham di pasar modal akan menstimulus stabilisasi pasar," jelas Yanuar.

Apalagi, ia menambahkan, saat ini harga-harga saham sedang murah-murahnya akibat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cukup dalam sepanjang 2008 ini.

Menurut Yanuar, jika opsi tersebut diambil, tentu memiliki kendala di peraturan Bapepam-LK. Dalam peraturan pasar modal, porsi yang diizinkan bagi Yayasan Dana Pensiun dan Jamsostek untuk menempatkan portofolionya di pasar modal masih terbatas.

"Paling besar kan di deposito, nomor dua di obligasi. Saham paling kecil. Kalau memang opsi pembelian saham diambil tentu harus diubah dulu porsi instrumennya," jelas Yanuar.

Kendati ia menganjurkan masuknya dua lembaga tersebut ke pasar modal secara masif, ia mengingatkan aksi harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan. Sebab, dengan kejatuhan harga-harga saham sepanjang tahun ini, dua lembaga tersebut sudah mengalami kerugian yang cukup besar.

"Tentu harus diperhitungkan secara matang. Kalau kemarin mereka rugi itu kan karena faktor diluar kebiasaan. Lagipula dulu mereka beli di harga tinggi. Kalau sekarang momennya bagus. Selain harganya murah, pasar memang sedang menunggu aksi beli dalam jumlah yang masif untuk mencapai stabilisasi pasar," jelas Yanuar.

(dro/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads