Hadapi Krisis Global, Unilever Berbekal Pengalaman Krisis 1997

Hadapi Krisis Global, Unilever Berbekal Pengalaman Krisis 1997

- detikFinance
Rabu, 03 Des 2008 12:52 WIB
Hadapi Krisis Global, Unilever Berbekal Pengalaman Krisis 1997
Cikarang - PT Unilever Indonesia Tbk lebih tenang dalam menghadapi krisis global saat ini. Sejumlah persiapan dilakukan, dengan berbekal pengalaman krisis moneter 1997 silam.

Hal tersebut disampaikan Human Resources and Corporate Relations UNVR Josef Bataona disela-sela peresmian pabrik baru Unilever terbesar se-Asia di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Rabu (3/12/2008).

"Pengalaman 1997/1998 itu tetap memberi bekal kepada kita apa yang perlu dilakukan kalau menghadapi krisis seperti ini," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu upaya untuk menghadapi krisis kali ini adalah dengan melakukan efisiensi. Biaya-biaya perjalanan yang tidak perlu dikurangi, dan perseroan mulai menggiatkan teleconference ataupun video conference.

"Jika kita merasa gemuk, kita cari jalan untuk menguranginya dengan berdiet. Kita mengurangi hal-hal yang tidak perlu, supaya tetap clean," tambah Josef.

Ia menjelaskan, Unilever sudah 75 tahun berdiri di Indonesia dan dalam masa tersebut telah melewati beberapa krisis.

"Setiap kali krisis kita amati ada perusahaan yang lari meninggalkan Indonesia, ada yang tutup pindah ke negara lain. Tapi Unilever Indonesia selama 75 tahun seberapa sulit keadaan ekonomi, kita tetap stay. Karena kita tahu konsumen sangat mengharapkan kehadiran kita," jelasnya.

Atas alasan itulah, Unilever tidak menghentikan investasinya meski krisis membuat sejumlah perusahaan harus melakukan efisiensi. Pembangunan pabrik terbesar se-Asia itu juga dilakukan Unilever untuk jangka panjang, bukan hanya jangka pendek.

Namun demikian, mengingat daya beli masyarakat yang melemah seiring terjadinya krisis, Unilever akan menyiasatinya dengan menghadirkan produk-produk yang terjangkau harganya tanpa melupakan kualitas. "Karena kualitas sangat penting," tegasnya.

PT Unilever Indonesia Tbk meresmikan pabrik perawatan kulit (skin care)-nya terbesar di Asia. Pabrik yang berlokasi di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang ini dibangun dengan investasi awal Rp 500 miliar.

Menurut Josef, investasi awal itu didanai dari keuangan internal. "Dana kita sangat cukup untuk biaya investasi, kita tidak pinjam bank," jelasnya.

Produksi Unilever sebanyak 4-5% per tahun dari nilai penjualan ditujukan untuk ekspor, dan sisanya ke pasar dalam negeri. Unilever dalam 15 tahun terakhir mempertahankan pertumbuhan dua digit, dan untuk 9 bulan pertama tahun 2009 sudah mencatat pertumbuhan 20%.

(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads