"Kita sekarang sedang dalam diskusi intensif dengan para pemegang obligasi. Kita minta restukturisasi, bentuknya kemungkinan perpanjangan jatuh tempo, tapi hasil pastinya masih menunggu negosiasi nanti," jelas Head of Corporate Communications FREN, Yolanda Nainggolan saat dikonfirmasi detikFinance, Rabu (3/12/2008).
Obligasi US$ 100 juta itu sendiri seharusnya jatuh tempo pada tahun 2013. Namun menurut Yolanda karena Mobile-8 tidak dapat melakukan penawaran tender setelah terjadinya pergantian pemegang saham pengendali, maka DB Trustee sebagai pihak kreditor obligasi tersebut menyatakan obligasi itu gagal bayar .
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenapa harus direstrukturisasi? "Karena untuk saat ini kita memang tidak punya dana untuk membayar obligasi itu saat ini," jelasnya.
Pada Oktober lalu, Perusahaan multimedia PT Global Mediacom Tbk (BMTR) milik pengusaha Hary Tanoesoedibjo, kembali menjual 22,79% kepemilikan sahamnya di PT Mobile-8.
Dan pada hari ini, lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's Ratings Services memangkas peringkat perusahaan telekomunikasi, PT Mobile-8 Telecom Tbk menjadi default (gagal bayar) dengan peringkat 'D'.
Peringkat Mobile-8 dinyatakan default karena perusahaan dinilai tidak memiliki likuiditas yang cukup untuk pembayaran utang obligasinya senilai US$ 100 juta yang jatuh tempo pada 2013, dan harus segera dibeli kembali (buy back) menyusul terjadinya perubahan pemegang saham. (qom/qom)










































