UBS Pasang Target IHSG 2009 di Level 1.600

UBS Pasang Target IHSG 2009 di Level 1.600

- detikFinance
Jumat, 05 Des 2008 09:04 WIB
UBS Pasang Target IHSG 2009 di Level 1.600
Jakarta - Pasar saham Indonesia di tahun 2009 masih akan menghadapi risiko ketidakpastian terhadap kondisi makro yang berkepanjangan. UBS Indonesia memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di akhir 2009 akan bertengger di level 1.600.

"Pasar kini berada pada 7,6 kali untuk PE di akhir 2008, kami memprediksi adanya penurunan sebesar 9% di pasar + EPS pada tahun 2009. Target indeks kami di akhir tahun 2009 adalah 1.600 (31% meningkat dibandingkan saat ini) dengan asumsi rate bebas risiko sebesar 12,8%," kata Joshua Tanja, UBS Head of Indonesian Research seperti dikutip detikFinance dalam UBS Investment Research, Jumat (5/12/2008).

Ketidakpastian terhadap kondisi makro yang berkepanjangan, menurut Joshua mungkin akan mempengaruhi ekspektasi terhadap keberlangsungan fiskal dan memburuknya aliran keluar modal domestik. Β 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam pandangan kami, perlambatan ekonomi telah dimulai dan pendapatan tetap mengandung risiko. Kami tidak meyakini akan adanya katalis pasar yang positif dalam waktu dekat dan kami berpikir bahwa valuasi memberikan satu-satunya dukungan terhadap harga saham," ujarnya.

UBS lanjut Joshua, lebih memilih saham dengan valuasi yang menarik, apapun sektornya. Berkembangnya market PE mungkin terjadi di tahun 2009 karena adanya valuasi yang tertekan dan penyesuaian terhadap kondisi makro.

Kondisi Asia

Pergerakan ekuitas di Asia tahun 2009 akan sangat bergantung terhadap perbaikan pada pasar kredit yang kini macet, dan diikuti dengan siklus pertumbuhan global yang menurun.

"Setelah mengalami tahun terburuk dalam empat puluh tahun terakhir bagi ekuitas di Asia, kami berharap bahwa tahun 2009 akan menjadi tahun yang lebih baik, walaupun PDB dan pertumbuhan laba masih dalam tekanan dan keduanya mungkin akan memburuk dahulu sebelum akhirnya meningkat. Namun demikian, ekuitas Asia memiliki risk premium yang sudah tinggi, dan diperdagangkan pada harga yang tidak lagi tinggi yang mana hampir menyamai dengan harga buku," kata Niall MacLeod, Head of Asia Equity Strategy pada UBS Investment Research.
Β 
Menurut UBS, dua katalis utama adalah kestabilan pasar kredit dan kestabilan ekonomi. Cara yang terbaik untuk memperbaiki kredit adalah dengan mempersempit credit spreads pada surat berharga jangka panjang, dan pasar ekuitas dapat diharapkan bergerak sejalan dengan pergerakan ini.
"Namun, penting juga bagi siklus pertumbuhan untuk menunjukkan tanda-tanda mencapai dasar bawah, yang kami prediksikan akan terjadi di tengah tahun pertama. Jika risk premium jatuh terlebih dahulu, pertumbuhan akan terjadi. Dalam kesempatan pertama, kami memperkirakan bahwa pasar-pasar di Asia akan didorong oleh penurunan risk premium. Baru kemudian akan terjadi situasi pertumbuhan yang menciptakan keadaan stabil dan akan meningkatkan ekuitas bersamaan dengan situasi pertumbuhan tersebut," jelas Niall.

Pendapatan di awal tahun yang kurang baik dan fundamental yang melemah akan menjadi karakter di awal tahun depan. Namun karena sudah semakin mendekati titik terbawah dari siklus, maka Asia dengan beberapa pengecualian dapat meloloskan diri dari kondisi yang tidak mengenakkan ini menjadi kondisi yang relatif baik karena suku bunga yang rendah, jumlah tabungan yang tinggi, dan valuasi yang tidak tinggi.

Beberapa negara di Asia, termasuk China, kini menganut kebijakan fiskal reflasi, sedangkan kebijakan moneter di wilayah ini kemungkinan tetap 'bersahabat'. Fundamental untuk pertumbuhan kemungkinan akan terlihat lebih kuat di Asia dibandingkan di bagian dunia yang lain, walaupun model 'bangun dan ekspor' kemungkinan bukan lagi merupakan dinamo penggerak pertumbuhan.

Sebagai negara yang lebih banyak melakukan impor daripadaΒ  melakukan ekspor dan pengguna komoditi, margin-margin di Asia seharusnya menjadi lebih kuat hingga batasan tertentu seiring dengan harga input yang semakin moderat.

Laporan ini merekomendasikan para investor untuk lebih berfokus pada kesensitifan suku bunga dibanding pada siklus dalam jangka pendek ini, meski masih terdapat fleksibilitas untuk berubah menjadi lebih condong ke siklus seiring dengan menyurutnya fase pelepasan saham dalam perekonomian Asia.

"Kami melihat bahwa, kelonggaran baik pada peraturan dan pada market rate lebih kepada skenario jangka pendek dibandingkan dengan siklus ekonomi global yang melambung kembali secara tiba-tiba. Dan walaupun kami kini lebih tidak khawatir dengan krisis mata uang di wilayah ini dibandingkan dengan sebelumnya, kami tetap menganjurkan fokus pada negara-negara yang menganut moneter domestik dan reflasi fiskal, seperti China, daripada kepada negara-negara yang siklus kreditnya masih pada awal tahap perlambatan, seperti India. Kami lebih memilih China, Hong Kong dan Singapura dibanding Taiwan, Malaysia dan India," tambahnya. (ir/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads