Pada perdagangan valas pukul 07.45 WIB, Selasa (9/12/2008) rupiah ada di posisi 11.628 per dolar AS dan ditransaksikan di kisaran 11.625-11.631 per dolar AS. Posisi rupiah Selasa pagi ini relatif stabil dibanding hari sebelumnya di level 11.630 per dolar AS.
Turunnya harga minyak yang pekan lalu duduk di level US$ 40 per barel membuat rupiah punya peluang penguatan karena akan berkurangnya biaya impor minyak dan BBM dalam negeri tidak lagi perlu banyak subsidi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan adanya pembatasan transaksi valas oleh kebijakan baru BI ditambah penurunan harga minyak, tentu peluang penguatan rupiah menjadi sangat bagus," ujar Farial ketika dihubungi 7 Desember 2008.
Namun Farial mengingatkan, bahwa peluang tersebut akan berhadapan langsung dengan rencana penerbitan surat utang AS sekitar US$ 600-700 miliar. Farial menjelaskan, akibat dari program bail-out US$ 700 miliar ditambah rencana bail-out tambahan US$ 800 miliar, pemerintah AS membutuhkan pendanaan skala besar.
"Dolar AS akan terserap ke AS dan menyebabkan dolar di pasaran dunia menjadi langka. Ini akan mendorong penguatan dolar secara ekstrem," ujar Farial.
Sementara mata uang dolar AS melemah terhadap euro di tengah rebound-nya saham di Wall Street dan komoditas. Euro pada penutupan perdagangan Senin waktu AS (8/12/2008) menguat tajam ke 1,2952 dolar AS dari pekan lalu 1,2717 dolar AS. Sementara terhadap mata uang Jepang, dolar AS bergeming di posisi 92,77.
(ir/ir)











































