"Kita harusnya bisa mengambil kesempatan ini, karena harga saham sudah diskon, apalagi kalau kita lihat price earning ratio-nya sudah di bawah 5% dan price to book value sudah rendah," ujar Direktur Schroder Investment Management Indonesia Michael Tjoadi.
Ia menyampaikan hal itu dalam acara seminar Investment Outlook di Joseph Wiboeo Center Kampus Universitas Bina Nusantara, Jalan Hang Lekir, Jakarta, Sabtu (13/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara mudahnya adalah dengan melihat besaran price earning ratio dari saham tersebut, jika sudah rendah terbuka kesempatan untuk memiliki saham tersebut. Setelah itu, investor juga bisa memilih saham-saham yang memiliki kapitalisasi besar, karena saham-saham inilah yang dinilai bisa memberikan keuntungan yang baik. Dan terakhir di saat krisis ini, investor bisa memilih saham-saham dari perusahaan yang menjual produk kebutuhan sehari-hari.
"Karena pasti permintaan produk mereka tidak akan menurun drastis, sehingga pendapatannya masih stabil meskipun di tengah krisis," jelasnya.
Michael mengatakan kondisi krisis dunia yang terjadi saat ini, pengaruhnya kepada Indonesia tidak akan seperti krisis pada tahun 1997/1998 karena Indonesia sampai saat ini masih mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas 6%. "Dulu pertumbuhan ekonomi kita di 1998 kan negatif," imbuhnya.
Ia juga menjelaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 sebesar 4,5-5% sebenarnya sudah sangat bagus di tengah kondisi krisis ekonomi global yang terjadi saat ini. Karena di 2009 banyak proyeksi yang mengatakan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara maju, bahkan ada yang mengalami resesi.
"Kita tahu pengaruh krisis ekonomi global ini akan masih terjadi di 2009, jadi jika di 2009 pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5-5% bisa dicapai maka Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi di dunia," tuturnya.
Dari data yang dikemukakan Michael, konsensus para ekonom di dunia dikatakan untuk tahun 2009 pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan akan mencapai 0%, Inggris diperkirakan akan mencapai -0,2%, Eropa 0,5%, Jepang 0,5, Cina 8,8%, negara-negara emerging termasuk Indonesia 5,6%.
"Kita tahu pertumbuhan ekonomi dunia untuk 2008 dan 2009 akan sangat tergantung pada negara-negara emerging market, sehingga diharapkan negara-negara emerging ini diharapkan bisa menjadi majority support dari pertumbuhan ekonomi dunia," pungkasnya.
(dnl/qom)











































