"Bursa mengkaji untuk memperlonggar batas atas da bawah auto rejection akhir tahun," jelas Direktur Pencatatan BEI, Eddy Sugito, di kantornya, SCBD, Jakarta, Senin (15/12/2008).
Eddy menjelaskan bahwa tingkat resiko pasar di BEI selama November 2008 sudah kembali normal, terutama karena penerapan batas auto rejection atas 20% dan bawah 10%. Tingkat risiko pasar BEI di November sebesar 3,05%, turun dari posisi Oktober sebesar 5,11%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada November 2008, rata-rata tingkat risiko pasar bursa dunia sebesar 3,48%. IHSG sekitar 3,05%, Nikkei 4,4%, Hang Seng 3,66% dan DJIA 4,24%. Dari bursa-bursa tersebut, IHSG memiliki tingkat risiko pasar dibawah rata-rata dunia. Artinya tingkat resiko investasi lebih baik ketimbang bursa-bursa utama di dunia.
Melihat hal tersebut, BEI berencana meninjau kembali penerapan batas auto rejection di akhir 2008. Auto rejection pertama kali diterapkan awal Oktober 2008 dengan batasan atas bawah 10% dan kemudian direlaksasi menjadi batas bawah 10% dan batas atas 20%.
"Kebijakan auto rejection diambil untuk melindungi investor karena pasar tidak mencerminkan kewajaran permintaan dan penawaran. Bila tidak ada pembatasan, dikhawatirkan terjadi aksi jual oleh investor secara bergelombang," ujar Eddy.
Namun selama bulan Desember ini sudah terlihat pasar sudah mulai berjalan dengan normal. ''Kami memandang sudah saatnya direlaksasi lagi. Mudah-mudahan akhir tahun akan ada perubahan lagi. Kita akan relaksasi ke atas dan ke bawah,'' kata Eddy.
Eddy meyakini, kelonggaran auto rejection akan memberi dampak positif apalagi tren harga saham diperkirakan cenderung menguat karena saat ini sudah banyak yang jatuh melebihi nilai fundamentalnya.
Sayangnya, Eddy belum dapat memberikan angka batas baru yang akan diterapkan kembali BEI tahun depan.
(dro/qom)











































