IIKP Cari pinjaman US$ 200 Juta

IIKP Cari pinjaman US$ 200 Juta

- detikFinance
Selasa, 16 Des 2008 15:53 WIB
Jakarta - PT Inti Agri Reosurces Tbk (IIKP) cari pinjaman bank untuk modal belanja (capital expenditure/capex) 2009. Kebutuhan capex diperkirakan sekitar US$ 20 juta, yang akan digunakan untuk rencana akusisi PT Inti Plantations serta modal kerja PT Anom Koto.

"Kita tengah menjajaki sejumlah bank untuk opsi pendanaan. Sebab, untuk rights issue, kemungkinan agak sulit," ujar Direktur Utama Heria Machdi, usai paparan di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (16/12/2008).

Kebutuhan untuk akusisi Inti Plantations, menurut Heria, sekitar US$ 12,5 juta. Untuk modal kerja Anam Koto adalah US$ 7,5 juta. Kebutuhan belanja modal lainnya, adalah capex untuk perikanan sebesar Rp 6 miliar. Untuk kebutuhan tersebut, perseroan masih memiliki kas kuat untuk pendanaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perseroan memang sedang berencana mengakuisisi 90% saham Inti Plantations. Inti Plantation sendiri saat ini memfinalisasi pembicaraan untuk mengakuisisi PT Dendy Marker Indah Lestari dari perusahaan Malaysia, Boustead Estates Agency.

Dendy Marker juga memiliki pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) dengan kapasitas 20 ton per jam, dan dapat dikembangkan menjadi 60 ton per jam.

Heria Machdi menambahkan langkah akuisisi Dendy Marker kurang mulus lantaran pemilik kebun asal Malaysia tidak menyepakati skema pembayaran yang diajukan perseroan, yaitu penundaan pembayaran. Perseroan mengajukan opsi itu karena kesulitan memperoleh pinjaman dari bank akibat harga komoditas CPO turun.

"Namun kami tidak tahu kemungkinan ke depannya. Bisa saja pemilik perusahaan asal Malaysia setuju. Kami tidak bisa mengontrol mekanisme pembelian ini, karena kami hanya memiliki 5% di Inti Plantation," ujar Heria.

Sementara untuk saat ini, IIKP masih mengandalkan penjualan dari usaha perikanan, ikan arwana. Namun, usaha tersebut terus menurun seiring turunnya permintaan. Akibatnya, perseroan memperkirakan penjualan keseluruhan pada 2009 turun hingga 40%.

"Untuk proyeksi 2009, kami masih mengandalkan penjualan ikan arwana. Penjualan diperkirakan menurun 30% hingga 40%," ujar  Direktur Divisi
Perikanan IIKP, Alfian Pramana.

Untuk tahun ini, perseroan memperkirakan penjualan kurang lebih sama dengan tahun 2007, yaitu di angka Rp 80 miliar lebih. Hingga triwulan III-2008,
perseroan mencatat penjualan Rp 63,4 miliar, tumbuh 10,6% dari periode sama tahun lalu Rp 57,3 miliar. Sedangkan  untuk laba bersih Rp 15,92 miliar, naik 2,6% dari Rp 15,51 miliar periode sama tahun lalu.

Penurunan permintaan terhadap ikan arwana, membuat perseroan hanya menargetkan penjualan sekitar Rp 80 miliar lebih pada akhir tahun.  Sementara untuk tahun 2007, penjualan satu tahun penuh mencapai Rp 80,89 miliar. "Krisis yang terjadi menurunkan permintaan, terutama ekspor," ujar Direktur Keuangan Sandjaja.

Saat ini perseroan memiliki komposisi penjualan, 70% berasal dari ekspor. Sementara 30% sisanya adalah lokal. Meski penjualan turun, perseroan tetap berusaha mendapatkan laba. Upaya yang dilakukan untuk itu adalah efisiensi, serta meningkatkan penjualan. Perseroan tengah mencari pasar ekspor baru di sejumlah negara, terutama di timur Tengah, untuk meningkatkan penjualan.

"Kawasan ini, kami anggap realtif aman dari dampak krisis. Ada beberapa yang telah kami jajaki, salah satunya Kuwait," jelasnya.

Perseroan menyiapkan dana sebesar Rp6 miliar, untuk modal kerja divisi perikanan tersebut. "Semuanya berasal dari kas internal,” ujarnya. (dro/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads