Malangnya Sekuritas di Masa Krisis

Malangnya Sekuritas di Masa Krisis

- detikFinance
Rabu, 17 Des 2008 13:30 WIB
Malangnya Sekuritas di Masa Krisis
Jakarta - Sekuritas atau brokerage merupakan sektor yang paling terkena dampak dari krisis keuangan. Penurunan tajam dari IHSG dan volume perdagangan telah memberi dampak negatif terhadap penurunan bisnis perusahaan sekuritas yaitu brokerage dan proprietary trading.

Aktivitas bisnis underwriting juga turun secara signifikan karena hanya sedikit perusahaan yang menerbitkan obligasi maupun go public dan right issue, karena kondisi pasar yang tidak kondusif sejak akhir kuartal I-2008.

Hal tersebut disampaikan Analis Pefindo Julius Teddy dalam acara outlook ekonomi 2009 di kantor Pefindo, Kuningan, Jakarta, Rabu (17/12/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perusahaan-perusahaan sekuritas yang terlibat dalam pemberian fasilitas margin bagi nasabah brokerage serta transaksi reverse (repo) juga dihadapkan pada potensi peningkatan gagal bayar nasabah maupun counterparty dalam melakukan top up jaminan maupun pembayaran atas perjanjian pembiayaan yang sudah jatuh tempo, akibat penurunan nilai aset keuangan yang dijadikan sebagai underlying aset dalam transaksi tersebut," tuturnya.

Julius mengatakan pada 2009 Pefindo memandang bahwa sektor sekuritas akan tetap bergejolak dan menghadapi kondisi yang tidak pasti. Perlu waktu yang tidak sebentar bagi sektor ini untuk pulih dari situasi ini.

Tekanan risiko bisnis masih akan tetap tinggi di sektor ini. Profitabilitas juga akan tetap tertekan dan perusahaan sekuritas akan melakukan efisiensi besar-besaran dan konsolidasi intensif dampak krisis yang terjadi kepada industri ini terutama kepada perusahaan-perusahaan sekuritas yang diperingkat oleh Pefindo terkait dengan potensi peningkatan risiko kredit, risiko likuiditas, solvensi dan risiko pasar.

"Sampai saat ini rating perusahaan sekuritas yang diturunkan oleh Pefindo adalah BNI Sekuritas dari idBBB+/stable menjadi idBBB/creditwatch negative karena penurunan profitabilitas dan permodalan serta kondisi pasar modal yang tidak baik," ujarnya. (dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads