Fitch Turunkan Peringkat Central Proteinaprima

Fitch Turunkan Peringkat Central Proteinaprima

- detikFinance
Kamis, 18 Des 2008 14:54 WIB
Fitch Turunkan Peringkat Central Proteinaprima
Jakarta - Lembaga pemeringkat internasioanl, Fitch Ratings menurunkan peringkat utang valas jangka panjang PT Central Proteinaprima Tbk (CPP) dari B+ (B plus) menjadi B dengan prospek atau outlook negatif.

Fitch juga menetapkan lagi peringkat pemulihan di posisi 'RR4' atas obligasi senior senilai US$ 325 juta yang jatuh tempo tahun 2012 yang dikeluarkan oleh Blue Ocean Resources Pte Ltd dan dijamin oleh CPP dan anak usahanya.

Dalam siaran pers Fitch, Kamis (18/12/2008) diejelaskan, penurunan peringkat CPP karena tingkat financial leverage yang sudah tinggi dalam jangka waktu menengah ini. Tingkat financial leverage CPP sudah mencapai 4,8 kali selama sembilan bulan 2008 yang dipicu oleh kenaikan capex dari semula Rp 707 miliar menjadi Rp 972 miliar dan saat ini naik lagi menjadi Rp 1,225 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ditambah lagi adanya permintaan udang yang melambat akibat krisis ekonomi terutama dinegara konsumen utamanya AS, Eropa dan Jepang. Likuiditas perusahaan juga mengalami tekanan dari kenaikan biaya bunga yang meningkat dan kesulitan dalam mendapatkan tambahan dana bank untuk membiayai modal kerja.

Sebagai langkah untuk memperbaikan dana kas dan tingkat leverage, CPP telah memutuskan untuk menghentikan capex dalam rangkak revitalisasi PT Aruna Wijaya Sakti (Dipasena). Pada akhir  November 2008, jumlah tambak Dipasena yang direvitalisasi hanya 5.709 dari rencana awal sebanyak 10.617 kolam.

Sementara untuk memperbaiki tiingkat likuiditas, Fitch mencatat dengan adanya pembatasan revitalisasi maka dana operasi akan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

Dengan adanya tekanan terhadap pendapatan dan margin, Fitch memprediksi tingkat leverage CPP masih akan tinggi di atas 4 kali untuk tahun 2009 dan 2010. Untuk outlook negatif menurut Fitch itu mencerminkan profitabilitas dan arus kas CPP yang mengalami tekanan karena ekonomi global yang melemah.

(ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads