Hal tersebut dikemukakan oleh Direktur Utama Kimia Farma Syamsul Arifin usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Hotel Manhattan, Jalan Casablanca, Jakarta, Kamis (18/12/2008).
"Kami meminta kepada pemerintah agar bisa memberikan dana talangan agar kami tidak rugi dengan patokan kurs yang diberikan," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padahal sekarang sudah ada selisih sekitar Rp 3.000. Jika terus dibiarkan, kami pasti akan mencatat kerugian," jelasnya.
Ia juga mengatakan, total belanja bahan baku obat generik tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selama ini mencapai US$ 100 juta per tahun. Pasalnya, lebih dari 90 persen bahan baku obat ketiga BUMN tersebut merupakan hasil Impor. Dua BUMN Farmasi lainnya yaitu, PT Indo Farma Tbk dan PT Bio Farma.
"Kami tidak minta PSO atau subsidi, hanya minta kewajaran kurs dolar saja," imbuhnya.
Holding Farmasi
Sementara terkait pembentukan induk usaha atau holding company Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang farmasi yang belum juga terlaksana, menurut Syamsul, hal itu memang tidaklah mudah.
"Saya katakan ini tidak semudah membalik telapak tangan," ujarnya.
Namun ia mengatakan, Kimia Farma siap untuk opsi apa saja yang dipilih pemerintah baik itu merger sesama BUMN Farmasi lainnya maupun akuisisi atau diakuisisi.
Menurutnya, saat ini perseroan sudah melakukan persiapan yang diperlukan untuk pembentukan holding tersebut. "Kita sudah bikin cetak birunya, kita juga sudah menyewa beberapa advisor," jelasnya.
Ia juga mengatakan, ada masalah pajak dalam pembentukan holding tersebut. Namun sayangnya, Ia enggan membocorkan besaran nilai pajak tersebut.
Masalah pajak dalam holding BUMN farmasi tidak menjadi kendala penting. Karena opsi yang diambil pemerintah adalah secara merger atau akuisisi sehingga tidak membentuk perusahaan baru. Dengan begitu hitungan pajaknya tidak akan terlalu besar.
Berbeda dengan pembentukan Holding BUMN lainnya yang membentuk perusahaan baru seperti holding pupuk yang membentuk PT Agrokimia Nusantara, holding pertambangan membentuk PT Indonesia Resources Company, holding semen dengan nama PT Semen Indonesia dan lain sebagainya.
"Makanya kita tidak sarankan ke pemerintah bentuk perusahaan baru. Kalau di holding farmasi kan salah satu BUMN yang jadi holding-nya, jadi hanya shares swap saja jadi tidak kena pajak gede," pungkasnya.
Ia menambahkan, yang akan dipilih menjadi induk dua BUMN Farmasi lainnya adalah perusahaan plat merah yang paling besar diantara lainnya. Ia pun berharap, rencana pembentukan holding tersebut bisa rampung sebelum pergantian kabinet di tahun 2009. (ang/lih)











































