Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan Senin (22/12/2008) diprediksi akan berfluktuatif dengan transaksi yang tipis. Kondisi ini akan membuat IHSG bergerak variatif.
Investor akan menghindari dulu saham-saham komoditas menyusul terus anjloknya harga minyak dunia yang pekan lalu melorot di level US$ 33 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bursa saham Asia Senin pagi ini dibuka menguat tipis denan KOSPI yang naik 0,8% atau 8,88 poin menjadi 1.189,85. Sedangkan indeks Nikkei Jepang nyaris stagnan dengan naik hanya 6,76 poin (0,08%) menjadi 8.595,28.
Sementara bursa saham di Wall Street ditutup bervariasi di akhir pekan. Pemberian dana darurat untuk sektor otomotif senilai US$ 17,4 miliar tidak banyak mendorong Wall Street karena pelaku pasar mulai bersiap sambut libur akhir tahun.
Indeks Dow Jones Industrial Average pada penutupan perdagangan Jumat waktu AS (19/12/2008) turun 25,88 poin (0,3%) ke level 8.579,11. Sedangkan Nasdaq naik 11,95 poin (0,77%) ke posisi 1.564,32 serta Standard & Poor's 500 juga naik tipis 2,60 poin (0,2%) menjadi 887,88.
Sedangkan pada penutupan perdagangan saham, Jumat (19/12/2008) kemarin IHSG turun 3,479 poin (0,26%) menjadi 1.348,285.
Berikut rekomendasi saham dari perusahaan sekuritas.
Panin Sekuritas
IHSG sepanjang pekan lalu bergerak menguat +6.76% didorong oleh menguatnya saham perbankan, infrastruktur, dan semen. Penguatan saham perbankan antara lain didorong pemotongan suku bunga Fed Rate ke kisaran 0.0%-0.25%, dan diturunkannya harga BBM yang berdampak akan turunnya angka inflasi. Pasar menilai kedua faktor tersebut juga akan memperbesar peluang diturunkannya BI Rate awal tahun mendatang.
Di sisi lain, sektor pertambangan dan perkebunan pekan lalu relatif bergerak melemah menyusul anjloknya harga minyak dunia ke bawah level $40/barel. Pemotongan produksi 2,2juta barel/hari oleh OPEC justru direspon oleh anjloknya harga minyak. Di tengah musim dingin, posisi cadangan BBM di AS justru tengah berada dalam rekor tertinggi 5 tahun. Hal tersebut dipengaruhi oleh melemahnya perekonomian serta daya beli masyarakat.
Pekan ini kami perkirakan indeks akan bergerak mixed dengan volume perdagangan yang akan cenderung lebih sepi. Disisi lain, investor juga mulai melakukan switching ke sektor non komoditas. Terlihat saham perbankan dalam dua pekan terakhir mulai menguat, demikian pula dengan infrastruktur dan semen. Pasar berharap tahun depan pemerintah akan mulai merealisasikan pembangunan infrastruktur guna mendorong laju perekenomian yang lesu. Kami proyeksikan kisaran support-resistance pada 1.290-1.405 untuk pekan ini.
eTrading Securities
Bursa Indonesia pekan kemarin kembali mengulangi pola yang sama seperti pekan sebelumnya dimana indeks berhasil rally pada awal pekan dan diikuti dengan aksi profit taking menjelang akhir pekan. Indeks kembali mencetak new high week-on-week dengan ditutup naik 85,3 poin (6,7%) selama sepekan kemarin ke level 1.348,2. Sektor infrastruktur dan banking masih menjadi penyumbang terbesar kenaikan indeks pekan kemarin. Fenomena window dressing dan pemangkasan suku bunga US menjadi katalis pergerakan indeks pekan kemarin.
Berita menarik dari US ketika akhir pekan lalu presiden Bush menyetujui penggelontoran dana bail-out senilai US$17,4 miliar dengan 'mencuil' sebagian anggaran dana US$700 miliar bail-out sektor finansial. Langkah ini langsung diikuti oleh pemerintah Kanada yang turut mengucurkan dana senilai US$3,3 miliar kepada GM dan Chrysler yang beroperasi di negara itu untuk menghindari PHK besar-besaran dari sektor otomotif. Bursa US sempat naik signifikan setelah dirilisnya keputusan bail-out tersebut meski akhirnya kembali terkoreksi akibat pesimisme pasar. Indeks Dow kembali terkoreksi tipis -0,3%, S&P500 +0.29% dan Nasdaq +0.77%.
Bursa Indonesia sendiri pekan ini diperkirakan akan bergerak sideways dengan kecenderungan trading value yang sangat tipis seiring investor sudah mulai meninggalkan bursa untuk memulai liburan panjang. Pekan ini perhatian investor akan lebih tertuju pada finalisasi skema Joint Venture antara Northstar dan BNBR untuk penyelesaian hutang repo senilai US$575 miliar. Jika finalisasi ini sukses, akan berpengaruh positif pada seluruh saham grup Bakrie terutama BUMI yang memiliki porsi terbesar dalam perjanjian repo saham tersebut. Sektor infrastruktur, cement dan banking masih menjadi tempat terbaik untuk berlindung dalam kondisi harga minyak yang sempat menyentuh US$33/barrel. Rentang pergerakan indeks akan berada pada kisaran 1300 - 1348.
(ir/ir)











































