Saham-saham peritel berjatuhan karena kekhawatiran musim liburan kali ini akan menjadi masa belanja paling buruk dalam 40 tahun terakhir.
Pada perdagangan Senin (22/12/2008), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 59,42 poin (0,69%) ke level 8.519,69.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perdagangan di Wall Street sangat terbatas, dengan volume yang sangat tipis. Pergerakan tipis ini diperkirakan terjadi hingga sepanjang pekan ini, seiring dengan pendeknya hari perdagangan karena ada libur natal.
Di New York Stock Exchange, transaksi hanya 1,22 miliar lembar saham, sementara di Nasdag juga hanya 1,66 miliar lembar saham. Keduanya berada di bawah rata-rata transaksi tahun lalu.
Dengan 6 hari tersisa untuk perdagangan selama tahun ini, masih ada sedikit harapan bahwa bursa Wall Street terhindar dari performa terburuknya sejak tahun 1930.
Saham Caterpillar tercatat sebagai komponen Dow Jones yang paling besar penurunannya, setelah mengumumkan akan memangkas gaji pejabatnya hingga 50%. Saham Caterpillar turun hingga 2,1% menjadi US$ 41,78.
Saham sektor otomotif juga semakin terpuruk meski pemerintah AS akan memberikan bailout hingga US$ 17,4 miliar. Saham General Motors (GM) merosot lagi hingga 21,6% menjadi US$ 3,52.
Sementara saham Toyota yang dicatatkan di Wall Street juga turun 5,4% menjadi US$ 60,88. Saham Toyota Motor Co turun setelah mengeluarkan proyeksi bahwa mereka akan mencatat rugi operasi untuk pertama kalinya sejak 71 tahun.
"Dari Toyota hingga pengembang dan perusahaan farmasi, maka tidak salah lagi bahwa kita berada dalam resesi dan juga jelas sekali bahwa kepahitan akan datang lagi," ujar Warren Simpson, managing director Stephens Capital Management seperti dikutip dari Reuters, Selasa (23/12/2008).
Saham-saham sektor energi juga melemah setelah harga minyak mentah kembali merosot. Saham Chevron tercatat turun 2,1% menjadi US$ 69,39.
Harga minyak mentah pada perdagangan di New York, kemarin kembali melemah karena tekanan permintaan. Minyak jenis light sweet untuk pengiriman Februari merosot 2,45 dolar menjadi US$ 39,91 per barel.
Sementara minyak jenis Brent juga merosot 2,55 dolar menjadi US$ 41,45 per barel. (qom/qom)











































