"Investor yang berminat sudah melakukan due diligence selama satu bulan. Kami harapkan awal 2009 bisa selesai," ujar Direktur Utama Indofarma, P. Sudibyo dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Jumat (26/12/2008).
Rencana perseroan melepas 40% saham anak usahanya itu sudah dilakukan sejak pertengahan 2007 lalu. Meski begitu, perseroan tidak ingin kehilangan kendali dari anak usahanya itu, karena IGM merupakan penyumbang terbesar pada penjualanperseroan. Dengan masuknya investorΒ tersebut, Indofarma berharap performa anak usaha bisa semakin meningkat dan akan meningkatkan kinerja perseroan secara konsolidasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya Sudibyo tidak menyebutkan nama investor yang tengah melakukan uji tuntas tersebut, karena terikat penjanjian confidential agreement. Ia hanya menyebutkan calon pembeli IGM merupakan perusahaan lokal yang memiliki pendapatan utama dari research farmasi di Australia.
Sebelum perusahaan tersebut, menurut Sudibyo, sudah ada lebih dari lima perusahaan lokal dan asing yang menjajaki kemungkinan membeli IGM seperti dari China, India dan Jepang. Namun perusahaan-perusahaan tersebut belum menemui
kecocokan.
Hingga saat ini, IGM menjadi konstributor terbesar perseroan dalam penjualan konsolidasi. Perusahaan yang bergerak pada bidang distribusi dan trading alat-alat kesehatan itu menyumbang lebih dari 50% penjualan.
"Hingga akhir 2008, perkiraan penjualan diperkirakan mencapai Rp 1,25 triliun. Dari obat sekitar Rp 600 miliar, selebihnya dari distribusi dan trading," imbuhnya.
Sebagai produsen obat-obatan, Indofarma masih sangat tergantung pada produksi obat generik. Komposisi penjualan obat perseroan 80% merupakan generik.Sisanya branded generic sebesar 10-15%, dan OTC sekitar 8%. Sementara pasar obat
generik sendiri, untuk tahun ini hanya sekitar Rp 2,5 triliun, atau 10% dari konsumsi penjualan di pasar nasiolan yang diperkirakan Rp 23-25 triliun.
Dari pangsa pasar generic sebesar Rp 2,5 triliun, Indofarma memiliki share sebanyak 20%, atau sekitar Rp 500 miliar.
"Oleh karena itu, kami berharap tahun depan bisa mengurangi ketergantungan dari produksi obat generik. Kita akan meningkatkan produksi branded dan OTC," jelas Direktur marketing dan General Affair Indofarma, Muhammad Munawaroh.
Hingga triwulan III-2008, penjualan Indofarma baru mencapai Rp 606,94 miliar, turun 6,5% dari Rp 648,78 miliar, periode sama 2007. Sedangkan untuk laba bersih hingga sembilan bulan pertama 2008, masih mengalami rugi yaitu sebesar Rp 5,36 miliar. Namun perseroan optimis bisa mencapai penjualan sebesar Rp 1,25 triliun hingga akhir tahun, serta laba bersih sebesar Rp 5 miliar.
Sementara untuk 2009, perseroan optimis meraih penjualan hingga Rp 1,7 triliun, sedangkan laba bersih mencapai Rp 30-35 miliar. Perseroan menetapkan modal belanja (capital expenditure/capex) sebesar Rp 35 miliar, dari kas internal. Dana tersebut akan digunakan untuk renovasi pabrik. Renovasi sudah dilaksanakan pada 2008, dan memakan biaya Rp 2,4 miliar. Sehingga untuk 2009, kebutuhan renovasi adalah sekitar Rp 32 miliar. (dro/ir)











































