Pada perdagangan Jumat (2/1/2009), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup menguat tajam hingga 258,30 poin (2,94%) ke level 9.034,69. Indeks teknologi Nasdaq juga ditutup menguat 55,18 poin (3,50%) ke level 1.632,21 dan Standard & Poor's 50 menguat hingga 28,55 poin (3,16%) ke level 931,80.
"Pasar sedang menunggu detail dari rencana stimulus fiskal yang sebelumnya ditawarkan oleh pemerintahan Obama," ujar Al Goldman, analis dari Wachovia Securities seperti dikutip dari AFP, Sabtu (3/1/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski menjadi sentral krisis, namun penurunan ini tidak separah dengan bursa saham di sejumlah negara. Posisi indeks saham terburuk diduduki Reykjavik (OMX index) dengan penurunan hingga 94,4 persen.
"Kita sudah semakin dekat pada satu titik jika orang percaya bahwa segala sesuatunya semakin baik maka akan direfleksikan secara singkat di pasar," ujar Peter Jankovskis, analis dari OakBrook Investment LLC seperti dikutip dari Reuters.
Saham-saham energi ditutup menguat tajam setelah harga minyak kembali melambung. Saham Chevron menguat hingga 3,5%, Exxon Mobil menguat hingga 2,3%.
Saham-saham Blue Chip seperti Apple Inc dan Microsoft Corp yang pada tahun 2008 ikut terpukul mencoba memperbaiki posisinya. Saham Apple menguat 6,3%, Microsoft juga menguat 4,6%.
Demikian pula saham-saham sektor otomotif sudah mulai membaik setelah pemerintah AS mengucurkan dana talangan US$ 4 miliar untuk General Motors Corp. Saham GM naik hingga 14%, Ford Motor naik 7,4%.
Namun perdagangan saham masih cukup tipis yakni di New York Stock Exchange hanya 929 juta lembar saham, di bawah rata-rata tahun lalu yang diperkirakan 1,90 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi hanya 1,44 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu sekitar 2,17 miliar. (qom/qom)











































