Nasib Herman Ramli kini mirip dengan saudaranya Rudy Ramli, mantan direktur utama Bank Bali yang pernah ditahan tahun 2000 karena kasus penggelapan dan pelanggaran perbankan dalam transaksi cessie senilai Rp 589 miliar.
Kelakuan kriminal Herman Ramli ini, ikut membuat Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) Fuad Rahmany geleng-gelang kepala.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penggelapan dana yang dilakukan Herman Ramli dilakukan terhadap 8.700 rekening nasabah Sarijaya, dimana sebanyak 6.500 rekening adalah dari nasabah ritel.
Modus yang dilakukan oleh tersangka Herman Ramli berdasarkan keterangan dari para direksi Sarijaya adalah meminjam dana nasabah.
"Ya diambil dia pakai uangnya, dia bilang pinjam, dia beli untuk macam-macam, dia tidak bisa mengembalikan. Jadi perusahaan disebut sebagai piutang, jadi seolah-olah orang itu berutang dengan perusahaan Rp 240 miliar. Nah ternyata yang 17 rekening ini ternyata HR. HR yang buka. Nah disini penyimpangannya, ketahuan kan dia yang pegang itu duit, berarti dia yang harus mengembalikan duit. Di perusahaan dicatat sebagai piutang. Waktu diaudit piutang ini lama banget, nggak jelas, ini dicek tidak ada piutang itu, memang hilang," paparnya panjang.
Dikatakan Fuad, karena kasus ini bisa memunculkan krisis kepercayaan dari para investor lokal terhadap perusahaan efek di Indonesia. "Ya susahlah yang begini, karena titik senoda rusak susu sebelanga," tukasnya.
Fuad mengakui dirinya sangat menyesalkan terjadinya kasus Sarijaya ini di tengah usaha Bapepam dan otoritas bursa lainnya untuk mendorong perkembangan investor ritel lokal.
Fuad mengatakan kecurigaan Bapepam terhadap penggelapan dana nasabah Sarijaya sudah terjadi sejak 2 atau 3 pekan yang lalu sehingga Bapepam langsung dengan cepat mengambil tindakan bersama dengan BEI (Bursa Efek Indonesia).
"Kita panggil si HR, bagaimana bisa nggak balikin duit, karena berbelit-belit kami jadi nggak percaya. Terus langsung kontak Kabareskrim, Pak tolong tangkap orang ini, ini semua bukti ada, ya kita sudah usahakan secara baik-baik, kalau kita main tangkap kan kita bisa kehilangan. Jadi dipanggil, suruh jelasin kemana uangnya, tapi dia berkelit terus, jadi kita nggak percaya. Pertama dia mengaku pinjam uang, tapi nggak pernah tahu dimana uangnya, karena itu baru kita tangkap. Sekarang duitnya memang sudah nggak ada, nggak tahu kemana," pungkasnya.
(dnl/ir)











































