"BUMI akan memproduksi batubara sebanyak 111 juta ton di 2012," ujar SVP Investor Relations BUMI, Dileep Srivastava dalam paparan di Wisma Bakrie 2, Jl Rasuna Said, Jakarta, Rabu (14/1/2009).
Tahun 2008, BUMI menargetkan produksi sebanyak 53 juta ton. Mengacu pada angka tersebut, target produksi batubara BUMI dalam 4 tahun ke depan akan meningkat 109,43%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BUMI baru saja mengakuisisi 80% saham Zurich Asset Investments senilai Rp 2,412 triliun. Melalui akuisisi ini, BUMI secara tidak langsung menguasai 44% saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA).
DEWA merupakan salah satu kontraktor pertambangan yang menangani produksi batubara BUMI. "Akuisisi ini akan mensinergikan kinerja perseroan dengan DEWA," ujar Dileep.
BUMI juga telah mengakuisisi 2 perusahaan batubara, PT Fajar Bumi Sakti (FBS) dan PT Pendopo Energi Batubara (PEB). Nilai akuisisi tersebut masing-masing sebesar Rp 2,475 triliun dan Rp 1,304 triliun.
"Akuisisi FBS dan PEB menambah cadangan batubara BUMI sebanyak 785 juta ton batubara," ujar Dileep.
Sebelum akuisisi FBS dan PEB, cadangan batubara BUMI sebanyak 2,119 miliar ton batubara terdiri dari KPC 1,562 miliar ton dan Arutmin 557 juta ton. Setelah akuisisi, cadangan batubara BUMI mencapai 2,904 miliar ton.
"Angka tersebut meningkat 107% dari posisi September 2007 sebanyak 1,402 miliar ton," jelas Dileep.
BUMI juga telah memfinalisasi pembelian 210 unit alat berat pertambangan senilai US$ 160 juta. Alat-alat tersebut akan dioperasikan oleh KPC dan Arutmin.
Melalui berbagai aksi tersebut, BUMI optimistis dapat meraih target produksi 111 juta ton batubara di 2012.
Namun, saat ini otoritas bursa dan pasar modal sedang meninjau aksi akuisisi 3 perusahaan yang telah dilakukan BUMI. Sebab, otoritas menilai ketiga akusisi tersebut melangkahi wewenang otoritas.
Otoritas menilai ketiga aksi tersebut bersifat material. Sementara manajemen BUMI menganggap aksi-aksi tersebut tidak material.
Otoritas bursa saat ini sedang melihat kemungkinan penghentian perdagangan saham (suspensi) pada BUMI. Realisasinya masih menunggu keputusan lebih lanjut. (dro/ir)











































