Sebelumnya, Wall Street terus dilanda penurunan 6 hari berturut-turut dan baru pada perdagangan Kamis 15 Januari mengalami rebound tipis.
Pelaku pasar sebelumnya sangat mencemaskan kondisi perusahaan keuangan di AS karena dana talangan yang diberikan tidak cukup sehingga muncul kecemasan akan ancaman krisis yang lebih besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alhasil, di tengah perdagangan yang sangat volatil, bursa saham di Wall Street pada penutupan perdagangan Jumat waktu AS (16/1/2009) bisa menguat terbatas meski terus diwarnai pelemahan.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 68,73 poin (0,84%) menjadi 8.281,22, Nasdaq naik 17,49 poin (1,16%) menjadi 1.529,33 dan Standard & Poor's 500 naik 6,38 poin (0,76%) menjadi 850,12.
"Ini merupakan sesi perdagangan yang sangat volatil dan cukup memusingkan," kata Andrea Kramer dari Schaeffer's Investment Research seperti dilansir dari AFP, Sabtu (17/1/2009).
Kenaikan indeks saham lebih banyak didukung oleh kenaikan saham perusahaan industri dan teknologi, sedangkan saham perbankan masih tetap negatif.
Seperti saham BoA, meski sudah mendapat bailout, sahamnya turun 13,7% menjadi US$ 17,18. Begitu pula dengan saham Citigroup yang turun 8,62% menjadi US$ 3,5.
Sedangkan saham teknologi seperti Intel naik 3,39% menjadi US$ 13,74. Serta saham General Motors naik tipis 0,26% menjadi US$ 3,93.
Untuk pekan depan para pelaku pasar melihat adanya peluang rally di Wall Street setelah kejatuhan indeks yang besar di pekan ini.
"Pasar sudah jenuh jual (oversold) dan siap untuk rally," kata Al Goldman, analis dari Wachovia Securities.
Perkiraan kenaikan saham pekan depan juga karena ada kondisi yang lebih baik seputar perubahan yang terjadi di Gedung Putih dengan dilantiknya presiden terpilih AS Barack Obama.
"Tidak peduli bagaimana perasaan Presiden Bush yang terpenting rakyat Amerika senang dia pergi dan Obama telah tiba," katanya.
(ir/ir)











































