PT Timah produsen timah batangan kedua terbesar dunia setelah Yunan Tin dari China. Penurunan produksi timah tahun ini krisis ekonomi global yang membuat permintaan menurun dan kemudian ikut memangkas harga.
"Sekitar 47-48 ribu ton produksi di 2008. Itu biasanya langsung dijual, kalau distok pun tidak banyak," ujar Coorporate Secretary PT Timah Tbk, Abrun Abubakar di sela-sela Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pabrik Tin Chemical PT Timah Industri, di Kawasan Industri PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, Banten, Sabtu (17/1/2009)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abrun menyatakan produksi timah tersebut dijual dengan harga rata-rata sekitar US$ 17-18 ribu per ton.
"Harga itukan dari triwulan I sampai III tinggi tapi triwulan empat harga turun yaitu sekitar US$ 12-13 ribu per ton. Harga tertinggi sempat US$ 24-25 ribu. Jadi harga rata-ratanya sekitar US$ 17-18 ribu perton," jelas Abrun.
Untuk belanja modal (capex) tahun lalu, imbuh Abrun, yaitu mencapai Rp 1,4 Triliun. Anggaran tersebut dialokasikan untuk replacement peralatan produksi, pembelian peralatan industri yang baru serta investasi pembangunan Pabrik Tin Solder.
"Pabrik Tin Solder kita sudah selesai dibangun pada bulan Desember lalu. Saat ini sedang uji coba produk dan sekitar bulan Maret -April sudah bisa didistribusikan ke pasar," kata pria berkacamata ini.
Saat ditanya soal target produksi dan penjualan di tahun 2009, Abrun menyatakan pihaknya saat ini tengah melakukan penghitungan.
"Tapi dengan kondisi seperti ini, tidak jauh-jauh dari tahun 2008. Begitupun dengan capex, Saya belum tahu angka pastinya karena ada beberapa capex di 2008 di-carry over ke 2009," pungkasnya.
Dirut PT Timah Tbk Wachid Usman menambahkan belanja modal tahun 2008 tidak terserap karena tidak berjalannya rencana akuisi dan tertundanya proyek pembangunan pabrik Tin Chemical Rp 250 miliar dan pembangunan kapal penggali timah Rp 300 miliar.
"Untuk tahun 2009, kami juga akan membangun pabrik aspal di Pulau Buton dengan investasi sebesar Rp 200 miliar di Pulau Buton. Namun untuk aspal ini kami masih mengkaji," jelas Wachid.
Wachid mengatakan dengan situasi saat ini pihaknya masih mempertimbangkan untuk mengakuisisi perusahaan pertambangan.
"Kalau kita mau akuisisi kan butuh biaya, baik untuk biaya due diligence, surveyi, kalau belum di eksplorasi juga perlu biaya eksplorasi. Seperti di tahun 2008 ada di Kaltim dan Kalsel itu belum selesai. Sementara ini kita tunda dulu," ungkapnya.
(epi/ir)











































