"Kita siapkan dana Rp 100 miliar buat buy back, tapi kita tidak lakukan itu karena waktu itu kita feeling harga akan jatuh terus dan ternyata ketika kita siap untuk buy back harga membaik," kata Dirut PT Timah Tbk Wachid Usman.
Hal itu disampaikan Wachid di sela-sela Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pabrik Tin Chemical PT Timah Industri, di Kawasan Industri PT KrakatauΒ Industrial Estate Cilegon, Banten, Sabtu (17/1/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semetara Coorporate Secretary PT Timah Tbk, Abrun Abubakar mengatakan semula Timah ingin buy back jika harga sahamnya ada di kisaran Rp 600, tapi ketika program buy back digelar harga terendah saham Timah cuma Rp 800.
Menurut Abrun, buy back tersebut jika dilakukan cukup efektif karena bisa menunjukkan kepercayaan bahwa fundamental perusahaan baik. "Tapi itu kan tidak wajib," katanya.
Sementara Sekretaris Kementerian Negara BUMN Said Didu mengatakan total jumlah buy back yang dilakukan perusahaan BUMN hanya sebesar 5%.
Jumlah ini memang sedikit karena ketika banyak perusahaan BUMN ingin melakukan buy back, investor justru tidak ada yang melepas sahamnya.
"Tapi saham BUMN saya lihat sudah stabil, sisa uang yang tidak terpakai buy back kembali ke kas biasa," kata Said.
Pengaruh buy back ini menurutnya, sangat positif karena harga saham BUMN terkendali di tengah ancaman krisis finansial global. Selain itu, BUMN juga mendapat keuntungan karena membeli dengan harga di bawah.
Menurut Said, meskipun program buy back khusus BUMN semasa krisis sudah berakhir, namun jika ada BUMN lain yang mau buy back bisa dibolehkan.
"Tapi program buy back yang sudah disetujui pemegang saham seperti Telkom itu kan belum habis uangnya yang Rp 3 triliun. Itu tetap jalan nggak perlu kebijakan khusus. Tapi dengan harga begini (tinggi), Telkom juga nggak akan beli," katanya.
(ir/ir)











































