"Kritik terhadap akusisi kami tidak dipahami secara tepat," ujar SVP Investor Relations BUMI, Dileep Srivastava saat dihubungi detikFinance, Minggu (18/1/2009).
Menurut Dileep, akuisisi senilai Rp 6,191 triliun tersebut sama sekali tidak akan membebankan kinerja keuangan perseroan. Sebab, mekanisme pembayaran dilakukan dengan cara mencicil selama tiga tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mekanisme pembayarannya dilakukan secara bertahap selama 3 tahun. Pembayaran pertama (down payment/DP) ke Zurich dilakukan sebesar Rp 492 miliar. Pada FBS, BUMI hanya membayar Rp 156 juta dan kepada PEB sebesar Rp 841 juta. Total dana yang dikucurkan BUMI untuk DP akuisisi hanya sebesar Rp 492,997 miliar.
Kemudian selama satu tahun pertama BUMI akan mengucurkan pembayaran sebesar Rp 1,015 triliun, terdiri dari pembayaran pada Zurich sebesar Rp 359 miliar, FBS Rp 430 miliar dan PEB Rp 226 miliar.
Pada tahun kedua, BUMI akan mencicil Rp 3,122 triliun. Rinciannya, ke FBS Rp 2,045 triliun dan PEB Rp 1,077 triliun. Pada tahun kedua BUMI tidak melakukan pembayaran pada Zurich.
Tahun ketiga, BUMI hanya akan melakukan pembayaran kepada Zurich sebesar Rp 1,561 triliun.
"Dengan pembayaran selama 3 tahun itu, perhitungan kami, kontribusi 3 perusahaan sudah masuk dalam pembukuan BUMI. Sehingga tidak akan memberatkan kinerja keuangan BUMI," jelas Presiden Direktur BUMI Ari Saptari Hudaya.
Sementara mengenai tudingan yang mengatakan bahwa nilai akuisisi 3 perusahaan tersebut terlalu mahal, Dileep mengatakan asumsi tersebut tidak didasarkan pada alasan yang tepat.
"Tiga akuisisi yang kami lakukan merupakan bagian dari strategi jangka panjang kami dalam mengembangkan tambang batubara BUMI. Jadi asumsi yang mengatakan bahwa akuisisi terlalu mahal tidak tepat, karena asumsi tersebut hanya didasarkan pada pergerakan harga saham harian yang bersifat jangka pendek," jelas Dileep. (dro/dro)











































