"Perubahan dilakukan untuk mengantisipasi tingginya nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah. Awalnya kami akan melakukan pembayaran dan pelunasan beberapa utang kepada pihak ketiga yang dalam bentuk dolar," kata Direktur Keuangan MIRA, Benny Prananto usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Graha Niaga, Jakarta, Selasa (20/1/2009).
Menurut Benny, utang kepada Sofitel International Ltd sebesar US$ 50 juta telah lunas dibayar. Begitu pula dengan utang kepada pemegang surat sanggup sebesar Rp 40 miliar. Mengenai utang perseroan di Heronswood Asset Management Ltd yang sebesar US$ 38 juta telah terbayar sekitar 34%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ke depannya, Benny mengungkapkan MIRA juga berencana melakukan pelunasan utangnya sekitar US$ 200 juta. Sedangkan pendanaannya akan dipenuhi perseroan dari kas internal dan eksternal.
Namun Benny belum bisa menjelaskan secara detail mengenai rencana tersebut. Sementara itu, Direktur Keuangan MIRA, Dewanto Koentjaraningrat mengatakan MIRA hingga saat ini juga belum bisa memberikan penjelasan mengenai capex maupun target pendapatan berikut laba perusahaan pada 2009.
"Kami masih melakukan finalisasi, begitu pula dengan laporan keuangan akhir tahun 2008 kami juga masih belum selesai," tuturnya.
Sepanjang tahun 2008, Dewanto mengungkapkan MIRA diperkirakan telah mencapai peningkatan kinerja signifikan. Baik dari segi pendapatan dan laba yang masing-masing mengalami lonjakan 3 kali lipat dan 10 kali lipat dari 2007. (dro/ir)











































