"Hedge fund asing sudah cabut dan magnitude-nya sudah mulai terasa dan mengganggu di 2009. Likuiditas pasar saham masih kurang, investasi masih seret," kata Dirut BEI, Erry Firmansyah dalam seminar krisis finansial di Hotel Grand Hyatt, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (21/1/2009)
Erry mengatakan jika tahun lalu rata-rata transaksi harian Rp 4,4 triliun maka tahun ini hanya sekitar Rp 2 triliunan atau turun sekitar 50%. "Tapi kita masih lebih besar, Singapura juga turun di atas 50%," ujarnya.
Menurut Erry, yang sekarang menjadi perhatian BEI adalah menjaga likuiditas karena sebenarnya pasar saham itu masih sangat menarik. "Sekarang likuiditas jadi target utama untuk dijaga," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau di AS dampak subprime mortgage sudah lewat bottom-nya, tapi kalau di Indonesia bottom-nya masih jadi pertanyaan seperti kemarin IHSG paling rendah 1.100 dengan PER 4-5 kali," ujar Erry.
Erry mengakui saat ini banyak yang masih takut membeli saham karena takut ada gelombang krisis finansial lagi baik dari luar maupun dari dalam. "Dari dalam seperti misalnya kasus BUMI da BNBR, broker dan sebagainya," katanya.
Tahun 2009 menurut Erry adalah tahun yang penuh tantangan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi 4,5-5,5 persen. Meski begitu potensi emiten blue chip masih bisa tumbuh 15-20%.
"Market secara umum juga kita harapkan tumbuh sebesar tu. Sekarang kita akan cari investor jangka pendek, karena kalau investornya jangka panjang semua pasar akan monoton dan tidak likuid, jadi dua-duanya kita rangkul," ungkap Erry. (ir/qom)











































