BEI Tinjau Kembali Suspensi ASIA

BEI Tinjau Kembali Suspensi ASIA

- detikFinance
Kamis, 22 Jan 2009 17:58 WIB
BEI Tinjau Kembali Suspensi ASIA
Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang meninjau kembali penghentian perdagangan saham (suspensi) PT Asia Natural Resources Tbk (ASIA). Pembukaan suspensi tergantung pada hasil peninjauan.

"Sepanjang kita lihat ada harapan dari perusahaan ini, dan ada komitmen dari perseroan cukup tinggi untuk kelangsungan bisnis dan kinerja, sehingga lebih sustain. Tentu akan kita beri kesempatan," jelas Direktur pencatatan BEI, Eddy Sugito, di kantornya, SCBD, Jakarta, kamis (22/1/2009).

Eddy mengakui, saat ini perusahaan yang sebelumnya bernama PT Asia Grain International Tbk tersebut sudah mengalami kemajuan. Akan tetapi, BEI masih melihat komitmen manajemen dan pengendali saham ASIA.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat ini perusahaan sudah menjalankan perdagangan timah dan mengakuisisi PT Tekonindo. Itu merupakan kemajuan," kata Eddy.

Oleh sebab itu, BEI memberi waktu serta kesempatan perusahaan itu untuk terus melantai di bursa. Sebelumnya, ASIA termasuk satu dari tiga emiten yang dicermati bursa untuk di delisting. Satu emiten sudah dipastikan delisting, yaitu PT Jaka Inti Realtindo Tbk (JAKA). Emiten yang bergerak di sektor konstruksi itu akan dikeluarkan dari lantai bursa pada 19 Februari 2009.

Sementara satu emiten lain, PT Indoexchange Tbk (INDX) juga masih ditunggu perkembangan dari bisnis yang dijalankannya. Bila memang tidak ada kemajuan, BEI tidak segan-segan untuk melakukan penghapusan saham emiten tersebut. Itu juga berlaku bagi ASIA.

"Kalau tidak ada kemajuan, ya buat apa dipertahankan," lanjut Eddy.

Sebelumnya, manajemen ASIA berharap suspensi saham perseroan bisa segera dicabut.  Sekretaris Perusahaan ASIA,  Stanislaus Say mengatakan, perseroan telah menyelesaikan semua permasalahan yang menimbulkan keraguan BEI mengenai kelangsungan usahanya. Keraguan tersebut menjadi dasar suspensi saham sejak 12 Maret 2006.

"Tahun ini, kami fokus mengupayakan pencabutan suspensi. Kami berharap, suspensi bisa dibuka secepatnya," kata Stanislaus dalam paparan publik pekan lalu.

Pada kesempatan itu, perseroan juga menandaskan rencana kedepan untuk pengembangan usaha. ASIA menganggarkan belanja modal atau Capex (capital expenditure) sebesar US$ 5 juta pada 2009. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai aktivitas pertambangan nikel PT Tekonindo, anak usaha perseroan.

Stanislaus mengatakan PT Tekonindo merupakan anak usaha yang baru selesai diakusisi dan diharapkan bisa mulai beroperasi awal semester II-2009.

"ASIA baru saja mengakuisisi 65% saham Tekonindo, kami harap Tekonindo akan mulai beroperasi pada awal semester kedua 2009 ini," ujarnya.

PT Tekonindo mempunyai lahan eksplorasi seluas 3.335 hektar (Ha) di Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.  Berdasarkan hasil uji eksplorasi, tambang tersebut memiliki cadangan nikel 4,7 juta ton dengan kadar nikel 1,39% dari area eksplorasi seluas 37,2 Ha atau sekitar 1,11% dari total area izin eksplorasi.

Selain itu, ia juga menjelaskan permasalahan utama yang dihadapi perseroan selama beberapa tahun terakhir, terutama terkait dengan penyelesaian utang kepada Cargill yang berdampak pada terhentinya aktivitas utama operasional perseroan.

"Kami telah telah berhasil mencapai kesepakatan pelunasan sebesar US$ 7,7 juta dikonversi menjadi saham sebanyak 829.500.910 lembar dan restrukturiasi utang tersebut telah memperoleh persetujuan oleh pemegang saham pada 12 Mei 2008," tuturnya.

Dengan tercapainya kesepakatan tersebut, perseroan kembali aktif menjalankan aktivitas perdagangan komoditi sesuai bidang usaha utama. Hingga September 2008, dari aktivitas perdagangan komoditi hasil tambang, perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp 72,60 miliar dengan laba bersih sebesar Rp 2,20 miliar.


(dro/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads