Karenanya, pemerintah mengubah asumsi nilai tukar pada APBNP 2009 menjadi Rp 11.000/US$ dari 9.400/US$ dalam APBN 2009.
Hal ini dikatakan oleh Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2009).
"Kurs di seluruh dunia terkoreksi ke keseimbangan baru. Dolar AS yang harusnya melemah ternyata menguat karena adanya flight to quality, jadi penguatan dolar ini terjadi di tengah fundamental ekonominya yang memburuk. Indonesia angka Rp 11.000/US$ dipersepsikan angka yang bisa diterima di tengah konstelasi yang ada," tuturnya.
Sri Mulyani mengatakan, pada periode Januari sampai Desember 2008 nilai tukar di seluruh dunia terhadap dolar AS melemah rata-rata sampai 34%. Demikian juga dengan harga saham yang turun 39-50% di hampir seluruh dunia termasuk Indonesia dan ini mengoreksi nilai kekayaan emiten.
Dalam kesempatan tersebut Sri Mulyani mengatakan pelemahan perekonomian global belum terasa adanya perbaikan karena pelemahannya belum sampai ke dasar.
"Perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia turun di 2009, mungkin di Februari ini perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia di 2009 bisa turun menjadi 1%," ujarnya.
"Penurunan pertumbuhan ekonomi Singapura juga drastis sekali penurunannya, kemudian tingkat pengangguran di Amerika dan Inggris menaik tajam. Ini menyebabkan guncangan di finansial dan riil market," pungkasnya.
(dnl/qom)











































