Sedangkan pendapatan perusahaan pelat merah itu naik 6% menjadi Rp 9,053 triliun dibanding tahun 2007 yang sebesar 8,542 triliun.
"Untuk pendapatan meningkat 6%, tetapi laba bersih turun 21% akibat kenaikan biaya produksi," kata Direktur Utama PT Timah Tbk Wachid Usman dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (28/1/2009).
Dalam laporan keuangan yang belum diaudit (unaudited) itu, Timah mencatat penurunan laba usaha 22% menjadi Rp 2,130 triliun dibanding tahun 2007 yang sebesar Rp 2,732 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk produksi biji timah tahun 2008, lanjut Wachid, mengalami penurunan sebesar 25% dari 58,054 ribu ton di tahun 2007 menjadi 43,383 ribu ton ditahun 2008.
"Produksi bijih timah 2008 menurun 25% dibanding tahun 2007 karena adanya kolektor yang membeli bijih timah dari mitra usaha binaan perusahaan," jelas Wachid.
Untuk produksi logam timah, jelas Wachid, juga menurun sebesar 16% dari 58,325 ribu ton di tahun 2007 menjadi 49,029 ribu ton pada tahun 2008. Sementara untuk penjualan logam timah menurun 20% dari 57.897 ribu ton menjadi 46.438 ribu ton di tahun 2008.
"Produksi logam timah menurun 16% dan penjualan menurun 20% akibat berkurangnya permintaan pada triwulan ke empat tahun 2008," papar Wachid.
Wachid menyebutkan untuk rencana produksi dan penjualan logam timah di tahun ini diperkirakan masih serupa dengan 2008.
Produksi dan penjualan logam timah tahun 2009 akan dilaksanakan dengan memperbesar volume spesifik (kualitas premium) sesuai kebutuhan pelanggan. Selain itu juga memperbanyak jenis produk turunan (bentuk dan kualitas) untuk memasok kebutuhan industri pemakai timah terutama industri pelat timah.
Membuat produk hilir timah (tin solder dan tin chemical) untuk industri elektronika dan industri pengguna bahan kimia berbasis timah. Serta memberikan jaminan pasokan dengan kontak penjualan tahunan. (epi/ir)











































