Hal ini disampaikan Direktur Utama PT Timah tbk Wachid Usman usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (28/1/2009).
"Sekitar Rp 700-an miliar, angka itu untuk pengembangan usaha, di luar yang replacement yakni berupa biaya perawatan alat dan sebagainya," kata Wachid.
Sementara Corporate Secretary PT Timah Tbk Abrun Abubakar menyebut angka Rp 900 miliar sebagai capex tahun ini. "Rp 900 miliar itu sudah termasuk carry over capex tahun 2008 yaitu sekitar Rp 600-700 milyar," ungkapnya.
Penurunan capex tersebut, imbuh Abrun, disebabkan tahun ini PT Timah lebih fokus ke proyek-proyek internal. "Jadi kami tidak terlalu agresif untuk ekspansi tahun ini," ungkapnya.
Wachid menjelaskan, dengan menurunnya harga timah yang cukup tajam sejak triwulan terakhir 2008, manajemen PT Timah menetapkan langkah untuk efisiensi di segala bidang dan menunda sementara proyek-proyek pengembangan usaha.
Kecuali untuk pembangunan proyek-proyek yang sedang berjalan seperti Pembangunan pabrik Tin Solder dan Tin Chemical, pengembangan teknologi lepas pantai, pembangunan kapal keruk besar jenis BWD, pembangunan pabrik aspal ekstraksi di Buton.
"Untuk kegiatan eksplorasi di daerah baru dan akuisisi dihentikan sementara," jelasnya.
Wachid menambahkan akuisisi pertambangan lain belum terlaksana karena berdasarkan due diligence (uji tuntas) terhadap empat lokasi tambang batubara di Kalimantan Timur dan Sumatera selatan belum dapat dinyatakan layak.
"Terlebih lagi setelah terjadinya krisis ekonomi global yang berakibat kenaikan suku bunga pinjaman. Akuisisi di tunda sampai kondisi perekonomian membaik," ungkapnya. (epi/ir)











































