"BI akan senantiasa berada di pasar menjaga volatilitas. Pada saat bicara volatilitas itu harus kita minimalkan impact-nya pada katakanlah dunia usaha dan perekonomian," kata deputi gubernur BI, Budi Mulya disela-sela acara peluncuran sukuk ritel di gedung depkeu, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (30/1/2009).
Menurut Budi, BI menjaga volatilitas dalam hal agar bullish atau ekspektasi positif terhadap rupiah makin membuat rupiah menguat. "Itu sama situasinya pada saat ada bearish terhadap rupiah dimana ada sentimen negatif terhadap rupiah. Jadi BI akan senantiasa ada di pasar menjaga volatilitasnya begitu rupa yang tidak memberikan tekanan kepada dunia usaha maupun kepada rupiah," jelas Budi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasti ada (dampaknya). Tapi itu semua sudah kita pahami makanya BI senantiasa berada di pasar. Kita harus terbuka bahwa ada tambahan permintaan devisa dalam rangka implementasi PBI yang mengatur mengenai dimungkinkannya nasabah atau klien melakukan unwinding, restukturisasi dan beberapa cara yang ada di PBI. Itu (pengaruh derivatif) pasti cukup ada. Tapi di situ BI," katanya.
Di dalam PBI, menurut Budi, diberikan kelonggaran kepada para pihak untuk melakukan unwinding, restrukturisasi, penyelesaian tagihan dan sebagainya.
"Itu masih bergulir. Tapi yang paling penting ini jangan salah ditafsirkan. Seluruh data, otoritas mengetahui semua. Jadi kita jaga pasarnya supaya seimbang. Suplai dan demand valas," katanya.
Sementara pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi pada hari ini yang mencapai level 11.320 per dolar AS, menurut Budi itu tidak hanya dialami mata uang lokal.
"Kalau hari ini yang terjadi, itu berlaku secara umum. Bukan hanya rupiah, tapi di regional juga mengalami tekanan. Ini hal yang biasa," katanya.
(ir/qom)











































