Rupiah Lesu di 11.350/US$

Rupiah Lesu di 11.350/US$

- detikFinance
Jumat, 30 Jan 2009 16:57 WIB
Rupiah Lesu di 11.350/US$
Jakarta - Rupiah menutup Januari dengan berada di zona pelemahan. Mata uang lokal masih gampang tertekan meski transaksi di pasar tidak terlalu banyak.

Pada perdagangan valas pukul 16.45 WIB, Jumat (30/1/2009) rupiah melemah 175 poin (1,57%) ke posisi 11.350 per dolar AS. Rupiah hari ini sempat melemah ke 11.450 per dolar AS.

Rupiah mengikuti pelemahan yang terjadi di mata uang regional seperti won melemah 0,76%, peso Filipina melemah 0,95%, dolar Singapura melemah 0,19%, bath Thailand melemah 0,17%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bank Indonesia mengakui rupiah saat ini memang sangat volatil (mudah terguncang) alias fluktuatif. Maka itu, BI akan meminimalkan dampak volatilitas rupiah terhadap dunia usaha dan perekonomian.

"BI akan senantiasa berada di pasar menjaga volatilitas. Pada saat bicara volatilitas itu harus kita minimalkan impact-nya pada katakanlah dunia usaha dan perekonomian," kata deputi gubernur BI, Budi Mulya disela-sela acara peluncuran sukuk ritel di gedung depkeu, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (30/1/2009).

Menurut Budi, BI menjaga volatilitas dalam hal agar bullish atau ekspektasi positif terhadap rupiah makin membuat rupiah menguat. "Itu sama situasinya pada saat ada bearish terhadap rupiah dimana ada sentimen negatif terhadap rupiah. Jadi BI akan senantiasa ada di pasar menjaga volatilitasnya begitu rupa yang tidak memberikan tekanan kepada dunia usaha maupun kepada rupiah," jelas Budi.

Mengenai dampak transaksi derivatif terhadap pergerakan rupiah, menurut Budi memang ada. Namun BI sudah memahaminya sehingga BI selalu senantiasa berada di pasar.

"Pasti ada (dampaknya). Tapi itu semua sudah kita pahami makanya BI senantiasa berada di pasar. Kita harus terbuka bahwa ada tambahan permintaan devisa dalam rangka implementasi PBI yang mengatur mengenai dimungkinkannya nasabah atau klien melakukan unwinding, restukturisasi dan beberapa cara yang ada di PBI. Itu (pengaruh derivatif) pasti cukup ada. Tapi di situ BI," katanya. (ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads