Pasar Saham Soroti Inflasi Januari

Pasar Saham Soroti Inflasi Januari

- detikFinance
Senin, 02 Feb 2009 07:37 WIB
Pasar Saham Soroti Inflasi Januari
Jakarta - Pelaku pasar akan menyoroti data inflasi Januari yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) Senin ini. Pencapaian inflasi di awal tahun ini akan menjadi arah pergerakan inflasi ke depannya.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (2/2/2009) ini diprediksi akan bergerak terbatas karena masih ketatnya likuiditas.

Saham perbankan, tambang dan infrastruktur akan menjadi perhatian pelaku pasar selain kondisi bursa saham regional. Bursa saham Nikkei Jepang pada Senin pagi ini dibuka melemah 85,54 poin (1,07%) menjadi 7.908,51.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bursa Nikkei mengikuti pelemahan di Wall Street yang mengakhiri Januari dengan buruk. Saham-saham tumbang karena investor cemas dengan kondisi ekonomi dan belum jelasnya pembentukan bad bank yang akan merawat bank-bank sakit.

Pada penutupan perdagangan saham Jumat pekan lalu (31/1/2009) indeks Dow Jones Industrial Average turun 148,15 poin (1,82%) menjadi 8.000,86. Indeks komposit Nasdaq turun 31,42 poin (2,08%) menjadi 1.476,42 dan Standards & Poors 500 turun 19,26 poin (2,28%) menjadi 825,88.

Selama Januari indeks Dow Jones telah turun 8,84% dan S&P turun 8,57%. Pelaku pasar menilai kejatuhan saham di Januari adalah sisa dari rentetan pelemahan saham di tahun 2008 dan berharap di bulan ke depan akan kembali rebound.

Sementara pada penutupan perdagangan saham Jumat (30/1/2009) IHSG naik 8,017 poin (0,61%) menjadi 1.332,667.

Berikut rekomendasi saham dari perusahaan sekuritas.

Optima Securities


Mengantisipasi pengumuman inflasi bulan Januari pada hari ini, investor mengakumulasi saham sektor perbankan dan properti sehingga indeks menguat 8 poin ke level 1.332. Saham di sektor pertambangan dan infrastruktur  khususnya yang berasal dari BUMN turut menopang penguatan bursa. Selanjutnya ekspektasi hasil inflasi akan menjadi acuan penurunan BI Rate pada Rabu mendatang. Pergerakan indeks masih tipis dan terbatas dengan memanfaatkan momentum inflasi dikisaran 1.310-1.350 dengan pilihan saham: ADRO, BBRI, BMRI, ELTY dan LSIP.

eTrading Securities

Bursa Indonesia selama pekan kemarin berhasil menguat sekitar 1,4% dan Jumat kemarin ditutup di level 1332,6 meski dengan rata-rata trading value yang sangat rendah, hanya sekitar Rp886 miliar. Minimnya likuiditas dan sentiment domestik di bursa Indonesia membuat indeks bergerak relative defensive jika dibandingkan dengan bursa Asia lainnya, seperti Nikkei +3%, KOSPI +6%, HSI +6% dan STI +4%. Pekan kemarin sektor mining menjadi katalis pergerakan indeks, terutama sector batubara seiring dengan penguatan harga batubara yang mencapai 9%. Terkoreksinya rupiah pekan lalu ke level Rp 11.600/US$ juga menjadi alasan investor untuk menghindari market.

Pekan ini bursa Indonesia akan bergerak memfaktorkan beberapa sentiment domestic penting seperti pengumuman inflasi bulan Januari yang diekspektasikan akan kembali deflasi (-0,3%) seiring kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM 2 pekan lalu. Investor juga akan mengantisipasi penurunan BI Rate seiring inflasi yang terkendali dan kebijakan untuk menstimulus sector riil melalui kredit. Dari luar negeri, investor masih mengantisipasi keluarnya result emiten-emiten pada 4Q08.

Sektor banking nampaknya akan menjadi katalis pergerakan bursa Indonesia pada pecan ini, terutama dalam 3 hari awal perdagangan, seiring sentiment dari inflasi dan BI rate, dan terlebih secara teknikal beberapa saham telah berada dalam posisi oversold. Beberapa saham pilihan antara lain BBRI, BMRI, BBCA dan ITMG. Indeks sendiri diperkirakan akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah pada rentang 1310 – 1345.
(ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads