Aksi jual saham infrastruktur, tambang dan bank membuat IHSG rontok namun transaksi yang terjadi sangat tipis dan jauh dari rata-rata harian saat normal.
Pengumuman angka inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Senin siang ini diprediksi tidak akan membantu IHSG dan rupiah karena keduanya lebih banyak tertekan faktor global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rupiah sempat ke 12.000/US$, tapi karena ada intervensi BI bisa turun ke 11.800-an. Tingginya pembelian dolar karena faktor global yang menjadi penyebab utama pelemahan rupiah," kata Treasury Division Head Bank NISP Suryanto Chang ketika dihubungi detikFinance, Senin (2/2/2009).
Suryanto memperkirakan rupiah hari ini masih akan tertekan dan bermain di kisaran 11.800-12.000 per dolar AS. Investor global masih akan mencari dolar jika Wall Street terus melemah.
"Tapi BI sudah berkomitmen akan menjaga di pasar, jadi saya kira ini pelemahannya temporer karena masalah global bukan internal," katanya.
Dia juga menilai pengumuman inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tidak akan berpengaruh ke rupiah. "Karena pasar sudah mengetahui inflasi Januari dan BI Rate akan cenderung turun," katanya.
Perdagangan saham sesi siang ini super tipis yang mencatat transaksi sebanyak 8.141 kali, dengan volume 225,6 juta unit saham, senilai Rp 254,3 miliar. Sebanyak 19 saham naik, 61 saham turun dan 32 saham stagnan.
Saham-saham yang turun harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 200 menjadi Rp 6.100, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 75 menjadi Rp 4.475, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 10 menjadi Rp 500, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 20 menjadi Rp 1.800 dan Astra Internasional (ASII) turun Rp 150 menjadi Rp 12.850.
Sementara hampir semua bursa saham Asia pada sesi siang ini merosot seperti Hang Seng turun 2,75%, KOSPI turun 1,18%, Nikkei turun 2,04%, STI Singapura turun 1,42%. (ir/qom)











































