Perdagangan hari ini jauh di bawah target BEI Rp 2,2 triliun yakni hanya sebesar Rp 771 miliar. Pelaku pasar melepas saham bank, tambang dan infrastruktur meski tidak dalam jumlah besar.
Pelemahan rupiah yang sempat menyentuh 12.000 per dolar AS membuat pelaku pasar cemas. Penurunan inflasi akan terasa hambar jika rupiah terus menyusut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indeks LQ-45 turun 5,629 poin (2,14%) menjadi 256,935 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 4,910 poin (2,3%) menjadi 208,724.
Treasury Division Head Bank NISP Suryanto Chang ketika dihubungi detikFinance, Senin (2/2/2009) mengatakan investor global masih akan mencari dolar jika Wall Street terus melemah.
Dia juga menilai pengumuman inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tidak berpengaruh ke rupiah. "Karena pasar sudah mengetahui inflasi Januari dan BI Rate akan cenderung turun," katanya.
Perdagangan saham hari ini sangat tipis yang mencatat transaksi sebanyak 23.460 kali, dengan volume 675,3 juta unit saham, senilai Rp 771,4 miliar. Sebanyak 22 saham naik, 91 saham turun dan 42 saham stagnan.
Saham-saham yang turun harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 300 menjadi Rp 6.000, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 200 menjadi Rp 4.350, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 10 menjadi Rp 500, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 40 menjadi Rp 1.780 dan Astra Internasional (ASII) turun Rp 250 menjadi Rp 12.750.
Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, Kalbe Farma (KLBF) naik Rp 10 menjadi Rp 475, Semen Gresik (SMGR) naik Rp 125 menjadi Rp 3.600 dan Gudang Garam (GGRM) naik Rp 550 menjadi Rp 5.950.
Sementara hampir semua bursa saham Asia hari ini merosot seperti Hang Seng turun 3,14%, KOSPI turun 1,3%, Nikkei turun 1,5%, STI Singapura turun 1,91%.
(ir/qom)











































