"Dengan melakukan investasi ini, perseroan memiliki potensi untuk meningkatkan potensi pasar, terutama ekspor," ujar Direktur AMFG, Samuel Rumbajan dalam paparan publik di gedung Bursa Efek Indonesia, SCBD, Jakarta, Kamis (5/2/2009).
Perseroan membeli teknologi tersebut dari AGC Flat Glass, Eropa, yang merupakan perusahaan terafiliasi. Investasi teknologi tersebut US$ 24,5 juta. Teknologi yang tergolong baru di Indonesia ini diharapkan akan memberi keuntungan besar bagi perseroan. AMFG akan menjadi satu-satunya negara di Asia yang mampu memproduksi CVD project.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai rencana tersebut, perseroan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk meminta izin pemegang saham. Perkiraan Samuel, proses pemasangan akan berlangsung selama tiga bulan, muali Maret hingga Mei 2009.
Corporate Finance AMFG, Rusli Pranadi mengatakan perseroan akan menggunakan dana kas internal untuk kebutuhan investasi tersebut. Dengan ekuitas per 30 September 2008 sejumlah Rp 1,47 triliun, investasi tersebut tidak akan mengganggu kinerja. Investasi itu juga termasuk dalam modal belanja atau Capex (Capital Expenditure) perseroan di 2009 yang dianggarkan sebesar US$ 40 juta.
Selain untuk pengembangan teknologi, capex juga dialokasikan untuk maintain serta rencana overhaul pabrik mereka di Sidoarjo yang diperkirakan memakan biaya US$ 14 juta.
"Total Capex sekitar US$ 40 juta, seluruhnya dari kas internal. Bila memang kurang kami masih memiliki fasilitas pinjaman dari bank. Namun untuk investasi CVD, seluruhnya dari kas," tukasnya.
Untuk pendanaan eksternal, perseroan masih memiliki fasilitas kredit dari dua bank, yang bisa dipergunakan sewaktu-waktu. Fasilitas tersebut merupakan standing loan, yang bisa diekstensi setiap tahunnya dari Bank of
Tokyo-Mitsubishi UGJ Ltd sebesar US$ 35 juta dan Mizuho Corporate Bank cabang Singapura sebesar US$ 10 juta.
Rusli juga menegaskan bahwa kinerja perseroan terus tumbuh. Pada 2008, pendapatan unaudited, diperkirakan mengalami peningkatan lebih dari 10%, dibanding 2007. Pada 2007, pendapatan perseroan mencapai Rp 1,9 triliun, dengan laba bersih mencapai Rp 153,1 miliar. Dengan ekspetasi pertumbuhan di atas 10%, maka pendapatan 2008 Asahimas, diperkirakan mencapai lebih dari Rp 2,1 triliun.
"Untuk laba bersih jauh diatas 10%," terang Rusli.
CVD Project nantinya akan menjadi salah satu produk andalan ekspor, sebab pasar ekspor memang lebih tinggi dibanding lokal. Kaca ini memiliki low emisi, serta mampu menghemat energi hingga 44%. Perseroan mengincar penjualan ekspor untuk CVD Project sebesar 80%, yaitu wilayah Asia Pasific, khususnya Oceania, dan Singapura. Sementara untuk pasar dalam negeri hanya 20%.
"Di luar negeri, mereka sudah memberlakukan building regulation cost, sehingga kaca ini sudah banyak digunakan. Mereka juga melihat ada return untukenergy saving, " ujar Sales Marketing Manager Asahimas, Muhamad Amien.
Saat ini, porsi ekspor perseroan adalah 55%, sementara pasar lokal 45%. Sementara volume total produksi kaca adalah 400 ribu ton, dengan komposisi 75% kaca lembaran dan 25% kaca otomotif. Perseroan memperkirakan, produksi kaca tahun ini bakal sedikit menurun, terkait adanya pemasangan CVD project. Namun, ke depannya, ini akan menjadi komoditi andalan yang menguntungkan perseroan.
"Kaca ini termasuk dalam kaca lembaran. Saat ini komposisi lembaran 50-50. Tentu dengan adanya produk ini, pasar ekspor akan meningkat," terang Amien.
(dro/ir)











































