Hal itu menjadi prioritas privatisasi BUMN ketimbang rencana Initial Public Offering (IPO) alias penawaran umum saham perdana beberapa perusahaan plat merah yang sudah mendapat persetujuan DPR.
Demikian hal itu diungkapkan oleh Menteri Negara Sofyan Djalil di kantornya, Gedung Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (6/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, pemerintah berencana akan melepas saham BBNI tersebut melalui greenshoe pada kisaran harga Rp 2050 per lembarnya. Menurutnya, jika ada investor yang berminat pada harga segitu, maka bisa langsung dilakukan
secepatnya.
"Harus dijual diharga segitu, enggak boleh kurang. Tapi kalau harga segitu ada investor strategis berminat ya kita lepas. Dulu sudah ada keputusan komite privatisasi," jelasnya.
Ia menambahkan, pihak Kementerian BUMN sudah mendengar laporan dari BNI bahwa ada beberapa investor yang berminat dari China dan Timur Tengah. Namun, para investor tersebut belum memberikan penawaran secara resmi kepada pemerintah selaku pemegang saham pengendali.
"Saya dengar itu, tapi belum ada penawaran resmi," ujarnya
Sementara itu, mengenai privatisasi BUMN lain seperti IPO PT Krakatau Steel, PT Garuda Indonesia dan PT Bank Tabungan Negara, ia mengatakan tahun ini belum bisa dilakukan.
"Untuk privatisasi BUMN yang lain susah. Kita diam dulu untuk sementara," tandasnya.
Green Shoe adalah penambahan jumlah penawaran saham oleh penjamin emisi ketika melakukan penawaran saham. Tujuan green shoe biasanya untuk mengurangi volatilitas harga saham setelah pencatatan saham di bursa. Green shoe juga bisa digunakan untuk menstabilkan harga saham ketika sedang anjlok.
(ang/ir)











































