Investor Berburu Dolar AS dan Yen

Investor Berburu Dolar AS dan Yen

- detikFinance
Rabu, 11 Feb 2009 12:37 WIB
Investor Berburu Dolar AS dan Yen
Jakarta - Pengumuman rencana stabilisasi sektor perbankan oleh Menkeu AS Timothy Geithner mengecewakan investor. Mereka pun kini melakukan perburuan atas dolar AS dan yen, yang dianggap sebagai tempat investasi paling aman. Mata uang regional pun berjatuhan.

Geitner telah mengumumkan program stabilisasi sistem finansial termasuk US$ 500 miliar untuk menyerap aset-aset macet. Juga upaya untuk meningkatkan kredit konsumer, membatasi penyitaan rumah dan menyediakan modal baru untuk perbankan.

"Namun langkah itu di pasar valas justru dinilai mengecewakan investor karena kurang detail dan mereka merasa skeptis tentang efektivitas melibatkan sektor swasta," ujar Kathy Lien, analis dari Global Forex Trading seperti dikutip dari AFP, Rabu (11/2/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada perdagangan di pasar Singapura, dolar AS memang tercatat menguat atas sejumlah mata uang regional dan euro. Mata uang tunggal euro tercatat merosot ke 1,2873 dolar dari sebelumnya di posisi 1,2910. Sementara yen juga menjadi perburuan. Dolar AS tercatat melemah ke 90,35 yen, dari sebelumnya di 90,44 yen. Nilai tukar rupiah juga tercatat melemah ke 11.850 per dolar AS.

Deputi Gubernur Budi Mulya mengatakan, mata uang di emerging markets termasuk rupiah kini memang sedang mengalami pelemahan.

"Hari ini kalau kita melihat currency di emerging tidak hanya rupiah, itu semua mengalami jitter bearish. Karena apa yang terjadi di Amerika. Pasar ternyata tidak seoptimis yang dibayangkan terhadap penyelamatan stimulus yang nilainya US$ 838 miliar akan disetujui. Tetapi yang terkait dengan paket recovery sektor keuangan, ini yang dipertanyakan kejelasannya Detailnya belum jelas, sehingga pasar berpikir lain sehingga ada flight to quality," urai Budi di Gedung DPR.

Atas pelemahan rupiah tersebut, seperti biasanya, BI menegaskan akan selalu berada di pasar dan mengupayakan untuk meminimalkan volatilitas.

"BI selalu ada disitu. Pokoknya BI senantiasa ada di pasar, mencermati dan meminimalkan volatilitas yang ada karena ini mengganggu bisnis dan perhitungan," pungkas Budi. (dnl/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads