Dolar AS Sempat Tembus Rp 12.000

Dolar AS Sempat Tembus Rp 12.000

- detikFinance
Jumat, 13 Feb 2009 10:05 WIB
Dolar AS Sempat Tembus Rp 12.000
Jakarta - Rupiah terus melemah bahkan sempat menembus Rp 12.000 per dolar AS. Pelaku pasar kini kian erat menggenggam dolar AS di tengah kondisi pasar finansial yang belum pasti meski DPR AS dan Senat telah mencapai kompromi soal stimulus yang diajukan Presiden Barack Obama.

Pada perdagangan Jumat (13/2/2009) pukul 8.30 WIB, rupiah menembus 12.020 per dolar AS. Posisi ini lebih tinggi dari perdagangan Kamis (12/2/2/009) pukul 17.00 WIB dimana rupiah berada di kisaran Rp 11.770 per dolar AS. Dan pada pukul 10.00 WIB, rupiah sudah surut lagi ke 11.925 per dolar AS.

Menurut pengamat pasar uang Tony Maryano, kegamangan senat AS menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku pasar uang semakin menahan dolarnya. Padahal, jika stimulus yang diajukan Obama disetujui secara aklamasi, diperkirakan bisa sedikit menjinakkan dolar AS. Senat AS dijadwalkan melakukan voting pada Jumat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Reaksi pasar nggak terlalu bagus karena ada banyak harapan dari market yang tidak terealisasi. Kuncinya begini, kalau paket disetujui secara aklamasi oleh senat, efeknya justru dolar melemah. Kalau tidak secara jelas (aklamasi), justru menguntungkan dolar," katanya ketika dihubungi detikFinance, Jumat (12/2/2009).

Selain itu, ia mengatakan, permintaan dolar AS saat ini memang masih tinggi. Hal ini bersamaan dengan perilaku elaku pasar domestik yang masih mempertahankan dolar AS jangka panjang mereka.

"Berbarengan dengan pelaku pasar domestik yang masih mempertahankan long dolar mereka. Yang lainnya juga antisipasi pemilu, tapi yang utama demand terhadap dolar masih tinggi," tambahnya.

Untuk perkiraan perdagangan hari ini, ia memprediksi dolar akan berada di kisaran Rp 11.800-11.950 per dolar AS. Namun ia tetap mengimbau agar mewaspadai peluang tembusnya dolar ke Rp 12.000 per dolar AS lagi.

"Hari ini range antara poisisi Rp 11.800-11.950 per dolar AS. Peluang ke Rp 12.000 masih terbuka, tetapi itu harga jual. Potensi melemah masih cukup besar, tapi ada juga aksi profit taking karena akhir pekan," ujarnya.

Jon Gencher, analis dari BMO Capital Markets mengatakan, gejolak di pasar saham membuat para investor kini berpaling ke dolar AS, juga yen dan franc Swiss.

"Pasar sepertinya menyadari bahwa para pembuat kebijakan tidak memiliki penyembuhan magis untuk menyembuhkan pasar yang sakit dan mungkin memerlukan langkah lebih banyak untuk menstabilkan perekonomian global," ujar Gencher seperti dikutip dari AFP.

"Risk aversion sepertinya masih mendominasi tema pasar saat ini dengan investasi 'safa haven' seperti dolar, yen dan Swiss franc sepertinya mendapatkan permintaan lebih banyak ketimbang mata uang lainnya," tambahnya.


(lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads