"Ya, agenda RUPS pada 20 Maret adalah melakukan rights issue," ujar Corporate Secretary BDMN, Dini Herdini saat dihubungi detikFinance, Jumat (13/2/2009).
Sayangnya, Dini enggan menyebutkan jumlah saham yang akan dilepas maupun target dana yang dibidik perseroan. Begitu juga dengan rencana penggunaan dana hasil rights issue.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun dalam waktu dekat, perseroan berencana mengeksekusi opsi beli balik (call option) atas obligasi subordinasi 2004 senilai US$ 300 juta pada 30 Maret 2009. Obligasi dengan tenor 10 tahun ini ditawarkan dengan call option di tahun ke 5.
Dana obligasi tersebut digunakan untuk mengakuisisi 75% saham PT Adira Multi Dinamika Finance Tbk (ADMF) pada tahun 2004.
Selain berencana mengeksekusi call option obligasi tersebut, perseroan juga berencana menambah kepemilikan sahamnya di ADMF sebanyak 20% dari saat ini 75% menjadi 95%. Sayangnya, dana yang dibutuhkan untuk keperluan ini masih belum dapat diumumkan.
Namun yang jelas, dua aksi tersebut akan menggerus posisi kas internal perseroan. Menurut Direktur Keuangan BDMN Vera Eve Lim, posisi kas internal perseroan saat ini adalah sebesar US$ 470 juta.
Jika untuk eksekusi call option obligasi saja akan menghabiskan dana US$ 300 juta, serta rencana penambahan saham di ADMF sebanyak 20%, dapat dipastikan BDMN membutuhkan pendanaan yang cukup besar.
Apalagi, perseroan saat ini sedang menghadapi potensi kerugian atas transaksi derivatif dalam jumlah yang cukup besar. Total nasabah derivatif BDMN sebanyak 22 nasabah dengan total nilai kontrak sebesar US$ 220 juta.
Menurut penjelasan Vera, selisih antara notional amount beli dan notional amount jual seluruh transaksi tersebut senilai US$ 49 juta. Nilai tersebut merupakan potensi kerugian atau keuntungan yang harus ditanggung BDMN.
Dari total 22 nasabah, sebanyak 21 nasabah derivatif BDMN dinyatakan tidak memiliki masalah. Hanya satu yang sedang bermasalah dan saat ini sedang dinegosiasikan. Nilai 1 nasabah bermasalah yang sedang dinegosiasikan itu nilai selisih kontrak jual dan belinya adalah sebesar US$ 9 juta.
Meski perseroan enggan menyebutkan nama nasabah tersebut, sudah menjadi rahasia umum bahwa PT Elnusa Tbk (ELSA) adalah nasabah yang sedang melakukan negosiasi dengan BDMN.
Dana pencadangan (provisi) yang disiapkan perseroan atas potensi resiko derivatif mencapai Rp 800 miliar. Melihat jumlah provisi, rencana eksekusi call option US$ 300 juta dan rencana penambahan 20% saham di ADMF, dapat dipastikan
rights issue perseroan nilainya bisa mencapai ratusan juta dolar agar kas internal perseroan tidak tergerus.
(dro/qom)










































