Dianggap Terlalu Ngekor Pemerintah, BEI Butuh Direksi Independen

Dianggap Terlalu Ngekor Pemerintah, BEI Butuh Direksi Independen

- detikFinance
Senin, 16 Feb 2009 17:08 WIB
Dianggap Terlalu Ngekor Pemerintah, BEI Butuh Direksi Independen
Jakarta - Pemilu di Bursa Efek Indonesia (BEI), kalau boleh disebut begitu, sudah dekat. Ajang demokrasi di pasar modal untuk pemilihan direksi mulai santer dibicarakan di kalangan pelaku pasar.

Topik-topik seputar siapa sosok yang tepat untuk memimpin mesin roulette raksasa mulai menjadi kasak-kusuk, meski masih di belakang layar.

Mirip seperti mekanisme demokrasi di Amerika Serikat, perseteruan dua kubu besar selalu mewarnai perebutan kursi panas direksi pasar modal. Di satu sisi, pelaku pasar yang bertindak seperti kelompok Liberal di AS, selalu mengusung independensi pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, pemerintah yang bertindak seperti kelompok Konservatif, juga berusaha menempatkan orang-orang didikannya di pasar modal boleh jadi untuk melanggengkan kekuasaan tertentu.

Kaum Liberal alias pelaku pasar, menilai BEI adalah lembaga swasta. Ia harus bisa lepas dari campur tangan pemerintah dan bersikap independen. Meminjam istilah yang diberikan mantan Ketua Bapepam-LK Ary Suta, BEI tidak boleh seperti mainan Yo-Yo.

"Kita sudah melihat adanya beberapa kasus dimana pemerintah bisa memerintahkan membuka atau menutup suspensi saham tertentu dengan seenaknya. Ini kan seperti mainan Yo-Yo, dimana BEI bisa ditarik lalu dilepas, lalu ditarik lagi dan seterusnya," ujar Ary Suta saat dihubungi detikFinance, Senin (16/2/2009).

Menurut Ary, BEI sudah dikendalikan oleh dinasti kelompok tertentu yang dekat dengan pemerintah. Ary menilai batasan antara posisi BEI sebagai lembaga swasta sudah bias.

"BEI sudah menjadi sangat birokratis dan tidak memberikan ruang bagi emiten maupun investor untuk bergerak leluasa dalam mekanismenya sendiri," ujar Ary.

Kendati demikian, ia bukannya hendak melepaskan sama sekali hubungan BEI dengan pemerintah, dalam konteks ini adalah Bapepam. Ia menilai perlu adanya perubahan-perubahan dalam mekanisme pemilihan direksi BEI agar bisa kembali bersifat independen.

"Pada dasarnya, hubungan pemerintah ke BEI itu kan adalah sebagai guide line. Jadi BEI seharusnya independen. Tapi sekarang batasan itu sudah kabur," ujar Ary.

Hal senada diungkapkan oleh pengamat pasar modal Adler Manurung. Salah satu pelaku pasar saham senior yang akan mendapat pengukuhan sebagai profesor di bidang pasar modal dari STIE Perbanas ini mengatakan, BEI harus memiliki sikap independen.

"Jangan cuma ngekor pemerintah saja. BEI harus independen," tegas Adler.

Adler mengakui bahwa posisi direksi BEI memang harus tunduk pada lembaga pemerintah yaitu Bapepam. Namun, ia melanjutkan, hal ini bukan berarti BEI harus kehilangan independensinya.

"Direksi atau pimpinan BEI harus bisa bersikap tegas dan independen, juga dalam hubungannya ke Bapepam. Kalau pimpinan BEI cuma tunduk saja pada Bapepam, maka semua orang yang tidak punya kualifikasi yang bagus pun bisa duduk sebagai pimpinan BEI," ujar Adler.

Baik Adler maupun Ary menyatakan bahwa sikap independen ini sangat penting dimiliki oleh pimpinan BEI. Menurut mereka, tanpa sikap independensi yang kuat, industri pasar modal Indonesia sulit berkembang.

"Kalau tidak independen, bagaimana bisa mengembalikan kepercayaan investor pada industri pasar modal. Ini sangat penting. Apalagi saat ini tingkat kepercayaan investor pada lembaga pasar modal kita sudah jatuh, bahkan kalau boleh dibilang tidak bisa lagi dipercaya," papar Adler.

Ary pun menyuarakan hal senada. Menurutnya, industri pasar modal Indonesia sebenarnya memiliki potensi sangat besar untuk berkembang. Hanya saja, Ary melanjutkan, pimpinan-pimpinan yang pernah duduk di kursi puncak BEI kurang memiliki visi misi dan implementasi yang nyata dalam memajukan pasar modal Indonesia.

"Mereka kurang memahami aspek bisnis, terlalu birokratis, sehingga market pun kurang respek. Visi misi yang nyata untuk mengembangkan potensi investor lokal pun masih belum terlihat. Kita selalu dikuasai asing, karena selama ini tidak ada visi misi untuk membawa investor lokal menjadi pemain besar. Asing terus yang menguasai," papar Ary.

Oleh sebab itu, ia mengharapkan siapa pun yang menduduki pucuk pimpinan BEI dalam pemilu nanti, harus memiliki sikap independen agar bisa mengembangkan visi misinya memajukan pasar modal.

"Supaya kita tidak ngekor terus dengan asing. Selama ini kan asing terus yang menjadi patokan investor lokal," jelas Ary.

Sehubungan dengan itu, Head of Research PT Recapital Securities Poltak Hotradero sepakat dengan pentingnya pengembangan investor lokal yaitu dengan mengembangkan edukasi investor terhadap industri pasar modal.

"Edukasi mengenai industri ini sangat penting. Apa yang terjadi di tahun 2008 merupakan pelajaran bagi kita semua di industri ini. Kasus-kasus seputar pasar modal yang muncul merupakan bukti nyata kurangnya edukasi dan pemahaman investor terhadap industri ini," ujar Poltak.

Poltak mengakui, dari segi jumlah emiten yang terus meningkat merupakan suatu prestasi yang patut dibanggakan. Namun, ia menekankan pentingnya edukasi pasar modal agar tidak terjadi ketimpangan.

"Menurut saya, BEI terlalu fokus mengejar fee transaksi dengan terus mengejar jumlah emiten dan sebagainya. Tapi di sisi lain, faktor edukasi keteteran dan ketinggalan jauh. Memang BEI sudah mengupayakan masalah edukasi, tapi
kenyataannya tidak berhasil. Kalau seperti ini terus, investor akan terombang-ambing dan terus dirugikan," papar Poltak.

Oleh sebab itu, Poltak menekankan, siapa pun yang hendak mencalonkan diri sebagai pucuk pimpinan BEI nanti, harus mengendepankan faktor edukasi pasar modal, agar kejadian-kejadian serupa di tahun 2008 tidak terjadi lagi.

"Siapa pun bisa, asal niat," ujarnya.

Kendati demikian, ia tetap mengusulkan bahwa orang yang tepat memimpin pasar modal adalah orang yang berasal dari pasar modal juga, bukan orang didikan pemerintah.

"Saya pikir harus tetap orang dari pasar modal. Kalau dari pemerintah kecenderungannya akan top to bottom, konsep dasar BEI dengan self regulatory-nya akan hilang kalau dipimpin orang dari pemerintah," ujar Poltak.

"Ya harus dari pasar modal, yang lahir dan besar dari pasar modal. Jangan orang yang selalu berlindung di belakang pemerintah. Jangan sedikit-sedikit laporan ke Lapangan Banteng (Bapepam-red)," tegas Adler.

Bursa dirut BEI mulai ramai setelah Bapepam mengeluarkan atuarn direksi yang sudah menjabat di SRO 3 kali berturut-turut tidak boleh menjabat dirut lagi.

Dirut BEI, Erry Firmansyah juga sudah menyatakan tidak akan mengajukan diri menjadi dirut lagi dalam RUPS 24 Juni mendatang.

Bapepam sendiri saat ini masih menunggu usulan komisaris BEI mengenai jumlah direksi BEI yang memadai karena jumlah saat ini sebanyak 7 direktur dianggap terlalu banyak. Komisaris harus menyampaikan jumlah direksi itu ke Bapepam paling lambat 17 Februari besok atau 120 hari sebelum RUPS.

Dengan ditentukanya jumlah direksi maka calon direksi BEI yang terdiri dari beberapa paket bisa mulai disiapkan. Β 

(dro/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads