"Saat ini ada sebuah sekuritas yang akan melakukan take over SDM di pusat maupun seluruh cabang Sarijaya, yang artinya akan ada resign besar-besaran karyawan," ungkap salah seorang karyawan Sarijaya kepada detikFinance, Selasa (17/2/2009).
Menurutnya, status karyawan Sarijaya saat ini tidak jelas lantaran mereka mendapat kabar bahwa gaji Februari 2009 akan menjadi gaji terakhir mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Sarijaya sedang mendapat tugas melakukan distribusi data hasil verifikasi tim gabungan Bapepam-LK, BEI, KSEI, KPEI dan Sarijaya kepada nasabah-nasabah Sarijaya.
Namun, proses tersebut sedikit terhambat lantaran Sarijaya kesulitan likuiditas dan menyebabkan kegiatan operasional di sejumlah cabang berhenti total. Pinjaman dana operasional dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pun sudah hampir habis.
"Concern karyawan yang utama adalah bagaimana penyelesaian proses ini sehingga tidak merugikan client karena kami di front office yang menghadapi komplain dan pertanyaan client dan tagihan dari pihak ketiga atas biaya operasional. Dan secara moral kami berkewajiban untuk tetap melayani investor dengan baik, namun jika siapapun baik manajement maupun SRO yang saat ini mengontrol keuangan SPS tidak memperhatikan hal ini, maka kami sebagai karyawan tidak bisa membantu proses melayani client yang perlu untuk mendapat penjelasan yang pasti," tutur karyawan tersebut.
Sehubungan dengan itu, Direktur Perdagangan Fix Income dan Derivatif, Keanggotaan dan Partisipan BEI Guntur Pasaribu enggan berkomentar lebih jauh soal adanya dana talangan dari BEI untuk operasional Sarijaya.
"Kalau soal itu, tanyakan ke manajemen Sarijaya saja deh. Kita nggak bisa komentar," ujar Guntur.
Sementara Kepala Biro Transaksi dan Lembaga Efek Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Nurhaida, juga enggan berkomentar soal itu.
"Kalau Sarijaya kesulitan likuiditas memang iya. Tapi kalau soal pinjaman dari BEI, tanyakan ke BEI saja deh. Saya kurang tahu," ujar Nurhaida.
Sementara pengacara SPS Luthfi Hakim mengakui memang sejak dibekukan kegiatan operasional SPS otomatis tersendat. Karena memang sudah tidak ada lagi dana, yang selama ini disokong juga oleh dana bantuan SRO.
"Seluruh rekening sudah diblokir, makanya kita minta dana yang tidak terkait dengan nasabah jangan diblokir kan kasihan karyawan yang tidak bersalah jadi kena batunya," kata Luthfi ketika dihubungi detikFinance, Selasa (17/2/2009). (dro/ir)











































