Obama Teken UU Stimulus, Wall Street Malah Runtuh

Obama Teken UU Stimulus, Wall Street Malah Runtuh

- detikFinance
Rabu, 18 Feb 2009 06:40 WIB
Obama Teken UU Stimulus, Wall Street Malah Runtuh
New York - Presiden AS Barack Obama menandatangani UU stimulus ekonomi US$ 787 miliar. Namun saham-saham justru kembali berjatuhan dan menyentuh level terendah sejak November 2008.

Pada perdagangan Selasa (17/2/2009), indeks Dow Jones melorot hingga 197,81 poin (3,79%) ke level 7.552,60 Indeks Standard & Poor's juga melorot 37,67 poin (4,56%0 ke level 789,17 dan Nasdaq anjlok 63,70 poin (4,15%) ke level 1.470,66.

Kejatuhan harga saham-saham membuat indeks S&P 500 dan Dow Jones telah melorot hingga 12,6% dan 13,9% sejak awal tahun, sementara Nasdaq terpangkas 6,7%. Dow Jones bahkan sempat menyentuh level terendah sejak 20 November 2008 ketika harga saham-saham menyentuh level terendah dalam 11 tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

UU stimulus ekonomi yang diteken Obama tampaknya tidak bisa berbuat banyak. Investor khawatir UU tersebut tidak akan cepat bereaksi menyelamatkan ekonomi AS dari resesi. Padahal dari paket stimulus ekonomi itu diharapkan bisa mengamankan atau menciptakan 3,5 juta lapangan kerja baru.

"Ada beberapa pertanyaan mengenai bagaimana efektivitas stimulus ekonomi ini untuk mengangkat lagi perekonomian," ujar Michael Sheldon, analis pasar dari RDM Financial seperti dikutip dari Reuters, Rabu (18/2/2009).

"Jika dilihat dari ukuran dan apa yang dilibatkan, maka tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa kita akan mendapatkan beberapa stimulus di luar paket itu. Hanya saja pertanyaannya, seberapa banyak dan kapan itu dimulai serta berapa lama akan berakhir," tambahnya.

Investor bereaksi negatif dari data manufaktur yang semakin menunjukkan resesi kian memburuk. Selain itu ada sentimen negatif dari peringatan bahwa bank-bank di Eropa kini terus mendapat tekanan dari krisis finansial. Saham-saham sektor finansial terpuruk ke level terendah dalam 14 tahun terakhir.

Saham-saham energi berjatuhan setelah harga minyak terus melorot. Exxon Mobil turun hingga 4,4%, Chevron turun 5,1%. Kontrak berjangka utama New York untuk minyak jenis light sweet pengiriman Maret merosot hingga 2,58 dolar ke level US$ 34,93 per barel. Sementara minyak Brent juga turun hingga 2,25 dolar ke level US$ 41,03 per barel.

Demikian pula saham-saham sektor otomotif ikut melorot setelah GM dan Chrysler mengajukan rencana untuk mendapatkan bailout US4 17,4 miliar dari pemerintah. Saham General Motors (GM) tercatat turun hingga 12,8%.

Sentimen negatif lainnya datang dari kabar Securities and Exchange Commission alias Bapepam AS menemukan pembobolan di Stanford Financial Group hingga miliaran dolar.

Satu-satunya kabar baik adalah dari Wal-Mart yang mencatat laba melebihi ekspektasi Wall Street. Saham peritel terbesar AS itu tercatat naik hingga 3,7%.

Perdagangan cukup moderat, di New York Stock Exchange mencapai 1,61 miliar atau di atas rata-rata tahun lalu sebanyak 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 2,38 miliar atau di atas rata-rata tahun lalu sebesar 2,28 miliar.
(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads